Hantu, Astrofisika, Manusia, dan Batas ‘Segala Sesuatu’

Saya tidak pernah, dan semoga saja tidak akan pernah, melihat hantu. Tapi semua yang mengaku pernah melihat, yakin kalau hantu itu ada. Tentu karena mereka pernah melihatnya. Dalam posisi ini saya yakin kalau hantu itu tidak ada, karena saya tidak pernah melihatnya. Sekaligus saya tidak yakin kalau hantu tidak ada, karena ada orang yang pernah melihatnya.

Anda tentu paham hantu yang saya maksud. Hantu yang sering muncul di TV dengan sosok yang menyeramkan. Sekalipun yang ditampilkan TV itu belum tentu benar, setidaknya tayangan tersebut memunculkan proyeksi akan tampilan hantu.

Berbincang hantu tentu menarik. Anda dapat membayangkan apapun yang anda suka dan menganggapnya sebagai hantu. Bukan karena ia tidak ada, ia ada di dalam pikiran anda, tapi ia tidak dapat kita jerat lalu hadirkan ke teman anda. Tapi itu bukanlah hal yang penting atawa menarik. Yang menarik adalah kita kadang membicarakannya, bukan?

*****

Perang Teks dan Hamlet yang Malang

-Gedung PKM Universitas Jember. Jam 19.30 WIB Sabtu 24 dan 15.30 WIB 25 Desember 2011-


“Seluruh perempuan seharusnya dijahit!” teriak seorang pria yang memakai jas krem kecoklatan, sambil ia mendorong cukup keras perempuan yang ia teriaki, “Sebuah negara tanpa ibu.”

Sebelumnya, delapan orang berpakaian serba hitam dalam barisan perlahan menuju ke tengah. Empat orang, dua di masing-masing sisi, memanggul peti mati. Dua orang di depannya, dengan wajah dilapisi make-up, nampaknya sedang berduka. Sedang yang berjas itu, mengambil posisi agak tinggi.

Ia episentrum getar malam itu: Pangeran Hamlet.

Pergerakan Diskursus Seni Rupa

: Gerakan Seni Rupa Baru dan Taring Padi




Waktu itu masih dekade1970-an dan awal 1980-an, dimana seni-modernisme perlahan mulai dibongkar aspek dogmatiknya. Arus dan gaya baru dalam berkesenian mulai bersuara. Peristiwa ini, lantas dikenal sebagai Gerakan Seni Rupa Baru (GSRB). Sebuah momentum dimana seni rupa Indonesia sekali lagi ramai oleh tingkah polah anak-anak muda.

Suatu hari di penghujung 1974, yang kemudian dikenal di dunia seni rupa sebagai ‘Desember hitam’ muncul nama-nama seperti Nanik Mirna, Harsono, Munni Adhi dalam pameran. Kemudian ditambahi saat Dewan Juri Pameran Besar Seni Lukis mensahkan karya-karya AD Pirous, Abas Alibasyah, Aming Prayitno, dll., untuk ikut berpameran.

Menyidik Ulang Dialog Hume dan Kant, atau Apakah? (1)

Apakah ilmu pengetahuan itu? Pertanyaan itu telah menjadi hakikat dari tiap kebingungan metafisis seluruh pemikir dari segala jaman. Bahkan, metafisika sendiri sempat disingkirkan dari ‘khasanah ilmu pengetahuan’. Mungkin pernyataan di atas bukanlah justifikasi yang tepat ketika dihadapkan pada fakta historis bahwa metafisika telah dipelajari secara serius selama berabad lamanya. Sejak era Filsafat Yunani sampai era Positivisme, yang kemudian mencapai puncak penyingkirannya pada masa Positivisme Logis (Donny Gahral, 2006; 30-33).

Naruto, Lingkaran Kebencian, dan Terorisme



Setelah membaca tinjauan singkat FB Hardiman di KOMPAS, 18 September 2011, atas buku Sejarah Teror yang ditulis Lawrence Wright, saya secara pribadi langsung tersentak. Dengan bernas, salah satu pemikir brilian yang dimiliki Indonesia ini menarik simpul isi buku tersebut, atau bahkan keseluruhan diskursus terorisme dengan satu kalimat kunci: “Sejarah teror tidak lebih daripada sejarah timbal balik yang menghasilkan rantai kekerasan.”

Pada titik ini saya langsung teringat dengan salah satu film serial animasi, Naruto Shippuden. Pada salah satu bagian cerita film yang rumit dan kompleks ini, si tokoh utama yang didiami monster paling buas, Naruto Uzumaki, menemukan lawan yang ternyata berguru pada gurunya juga. Si musuh ini bernama cukup aneh untuk ukuran film yang hampir seluruh nama tokohnya menggunakan kosakata Jepang, Pain.