Tampilkan postingan dengan label Seni. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Seni. Tampilkan semua postingan

Perang Teks dan Hamlet yang Malang

-Gedung PKM Universitas Jember. Jam 19.30 WIB Sabtu 24 dan 15.30 WIB 25 Desember 2011-


“Seluruh perempuan seharusnya dijahit!” teriak seorang pria yang memakai jas krem kecoklatan, sambil ia mendorong cukup keras perempuan yang ia teriaki, “Sebuah negara tanpa ibu.”

Sebelumnya, delapan orang berpakaian serba hitam dalam barisan perlahan menuju ke tengah. Empat orang, dua di masing-masing sisi, memanggul peti mati. Dua orang di depannya, dengan wajah dilapisi make-up, nampaknya sedang berduka. Sedang yang berjas itu, mengambil posisi agak tinggi.

Ia episentrum getar malam itu: Pangeran Hamlet.

Pergerakan Diskursus Seni Rupa

: Gerakan Seni Rupa Baru dan Taring Padi




Waktu itu masih dekade1970-an dan awal 1980-an, dimana seni-modernisme perlahan mulai dibongkar aspek dogmatiknya. Arus dan gaya baru dalam berkesenian mulai bersuara. Peristiwa ini, lantas dikenal sebagai Gerakan Seni Rupa Baru (GSRB). Sebuah momentum dimana seni rupa Indonesia sekali lagi ramai oleh tingkah polah anak-anak muda.

Suatu hari di penghujung 1974, yang kemudian dikenal di dunia seni rupa sebagai ‘Desember hitam’ muncul nama-nama seperti Nanik Mirna, Harsono, Munni Adhi dalam pameran. Kemudian ditambahi saat Dewan Juri Pameran Besar Seni Lukis mensahkan karya-karya AD Pirous, Abas Alibasyah, Aming Prayitno, dll., untuk ikut berpameran.

Naruto, Lingkaran Kebencian, dan Terorisme



Setelah membaca tinjauan singkat FB Hardiman di KOMPAS, 18 September 2011, atas buku Sejarah Teror yang ditulis Lawrence Wright, saya secara pribadi langsung tersentak. Dengan bernas, salah satu pemikir brilian yang dimiliki Indonesia ini menarik simpul isi buku tersebut, atau bahkan keseluruhan diskursus terorisme dengan satu kalimat kunci: “Sejarah teror tidak lebih daripada sejarah timbal balik yang menghasilkan rantai kekerasan.”

Pada titik ini saya langsung teringat dengan salah satu film serial animasi, Naruto Shippuden. Pada salah satu bagian cerita film yang rumit dan kompleks ini, si tokoh utama yang didiami monster paling buas, Naruto Uzumaki, menemukan lawan yang ternyata berguru pada gurunya juga. Si musuh ini bernama cukup aneh untuk ukuran film yang hampir seluruh nama tokohnya menggunakan kosakata Jepang, Pain.

Melampaui Memori Kolektif tentang Kuasa: Makan Kelaminmu





(Tinjauan singkat atas performance-art Fen-Ma Liuming’s Lunch (1994) oleh Ma Liuming)





Sebuah pemaknaan baru atas kelamin: makan siang. Adalah perlawanan pada otoritarianisme, pada rejim kuasa, yang terlembaga dan yang menyebar. Saya tak pernah membayangkan seniman lain beraksi atau memproduksi karya sedalam struktur instingtif tersebut. bagaimana kelamin –alat reproduksi, alat pembuangan kotoran, sekaligus alat pemujaan pada ritual-ritual—menjadi menu utama makan siang.

Cina, yang kita tahu bersama sebagai negara dengan power raksasa ‘memberikan ijin’ tampilnya Ma Liuming, dengan perlawanan sedahsyat itu. Hei, apa lagi perlawanan yang begitu tajam, yaitu pemujaan-pada-yang-purba? Sekaligus menggunakannya sebagai perangkat untuk melawan aparatus negara? Juga yang begitu maskulin? Makanlah.

Ma Liuming dengan elegan menampilkannya. Ada mata nanar menatap kejauhan, seolah menolak segala jenis kejijikan (ini ditunjukkan dengan tetap ‘memakan’ kelaminnya). Sepotong daging matang siap makan dibiarkannya tenang di meja. Sama sekali tidak disentuh. Karya ini –Lunch– adalah sebentuk perlawanan ‘purba’pada kuasa yang juga purba. Namun apa yang dilawan terus-menerus berhasil memanipulasi dirinya, menjadi modern, oleh karenanya rasional.

Lunch adalah demonstrasi tubuh yang subversif. Tubuh yang melampaui memori kolektif tentang ketenteraman, tentang stabilitas norma-norma, tentang kenormalan-awam: tentang kuasa. Ditambah pada kealpaan (kalau bukan penolakan) pada daging goreng garing di hadapannya tersebut, melebarkan perlawanannya pada subyek lain yang berkuasa: teknologi.

Pada titik ini, saya teringat salah satu petikan dari esai F. Budi Hardiman, Massa dan Teror (2001), “keberanian apa yang lebih hebat selain perlawanan pada yang maha kuasa?”[]

(Untuk) Perang






Seorang anak kecil tampak asyik sekali menikmati terbentangnya lanskap di pinggiran kota Florence. Ia amati dengan suntuk kelompok-kelompok burung terbang, rontoknya daun dari dahan, langit yang berubah-ubah warna, dan bebatuan megah, seakan-akan menancap di tanah.

Waktu itu daerah yang hari ini kita kenali sebagai Italy masih terpecah menjadi belasan, atau mungkin puluhan negara-kota otonom yang seringkali saling mengekspansi satu sama lain, mirip Yunani klasik. Florence, tempat tinggal anak tersebut adalah salah satu negara-kota di dalamnya, dipimpin sejak berpuluh tahun khusus oleh bangsawan bernama keluarga, Boglia.

Si anak itu adalah anak haram. Ayah dan ibunya (atau bisa dikatakan sebagai dua orang yang bersenggama) tidak pernah menikah di jalur legal apapun. Artinya, waktu itu ia tidak bisa bersekolah dengan layak. Akibatnya ia tidak mampu membaca huruf latin, huruf tersohor waktu itu, yang digunakan untuk menuliskan karya-karya pemikiran besar. Pendidikannya hanya standar para pedagang. Paling parah, ia tidak diakui sebagai seorang manusia.

Sampai suatu ketika, pamannya yang baik hati menitipkannya, kebetulan ia juga antusias untuk dititipkan pada seorang seniman yang cukup terkenal waktu itu, Andrea Verocchio. Mulailah ia mengasah bakat seni sekaligus meneruskan hobinya, menginvestigasi alam.

Masa pembuktian dimulai. Pertama kali ia diminta membantu sang tentor melukis karya cukup prestisius dan pastinya, berupah besar. ‘Baptism of the Christ’, ia diperintah untuk membuat latar belakang pembaptisan Yesus. Ia lukis serupa dengan corak pemandangan yang senantiasa ia lihat. Lalu saat selesai, detail dan menggairahkan!

Salah satu air terjun kecil di Florence yang ia comot dari ingatannya, ratusan tahun kemudian diteliti oleh para ahli. Hasilnya: presisi.

Lukisanpun jadi. Verochhio syok. Ia tidak menyangka kalau olahan warnanya terlihat ecek-ecek jika bersanding dengan untaian warna yang disajikan anak muda ini. Sontak, seniman yang cukup tenar ini berhenti jadi pelukis saat itu juga. Ia memilih jadi pematung. Menyerahkan order lukisan-lukisannya pada anak muda ini.

Mirip dengan sebagian tokoh di film-film, ia mengalami liku-liku dan kerasnya dunia bagi si ‘anak haram’. Tapi, kejeniusannya yang jauh diatas jenius-biasa tidak dapat dibungkam begitu saja. Barangkali benar yang dikatakan John Nash dalam Beautiful Mind, “Jauh berbeda antara ‘jenius’ dan ‘jenius-kebanyakan’.”

Puluhan tahun kemudian, ia, anak haram itu dikenal dan dikenang sebagai seniman besar, kalau bukan terbesar, yang pernah dilahirkan. Setidaknya pada abad-abad Renaisans. Ia, Leonardo da Vinci.

Mahakaryanya yang dikenal tentu saja ‘Monalisa’ dan ‘The Last Supper’, dua lukisan dengan teka-teki yang sama-sama memukau. Sampai-sampai Dan Brown dan banyak orang lain meneruskan namanya, atau minimal nama karyanya untuk karya mereka. Semacam meminjam ketenaran.

Tapi ada satu karya yang banyak disorot karena muatannya yang dahsyat, sekaligus banyak dilupakan dan tertutupi oleh dua karya di atas. Lukisan ini tidak pernah selesai dengan utuh. Sialnya, ini juga rusak karena faktor alam dan manusia yang berimpitan dengan masa-masa barbar purbanya orang-orang di Eropa.

***



Suatu ketika, Cesare Boglia, pemimpin negara-kota Florence memenangi perangnya dengan Milan di Anghiari. Pulang dari medan perang, ia minta Leonardo yang sudah tersohor dengan banyak karyanya, untuk melukiskan kegembiraannya menang perang.

Boglia menamainya: ‘Battle of Anghiari’. Leonardo menerima, meski ia tahu Boglia adalah orang yang haus darah. Boglia yang rela merogoh uang besar merekrut Niccolo Machiavelli, penulis mazhab politik anti-moralis (Il Principe, Sang Pangeran) untuk jadi penasehatnya. Leonardo ingin melakukan sesuatu untuk Boglia, si keji itu. Juga untuk manusia-manusia setelahnya. Sesuatu yang kelak diingat sebagai monumen anti-kekejaman perang.

Ia observasi kematian demi kematian akibat perang yang ia dapati dari cerita, dan berita. Ia kerjakan perlahan pesanan tersebut. Sedikit demi sedikit, dengan waktu yang lama. Setahun berlalu hanya untuk sketsanya saja. Perlahan juga ia luapkan kejijikannya terhadap perang, atau yang ia sebut, 'Pazzia bestialissima'. Kebengisan perang.

Sampai suatu ketika ia menuliskan luapan kejijikannya dalam lukisan itu, “… Gambarkanlah orang-orang sedang menjerit-jerit dengan mulut ternganga dan melarikan diri. Sementara yang lainnya, dalam kengerian akan kematian, menggeretakkan gigi, memutar-mutar bola mata, menekan badan sendiri dengan kepalan tangan, dan kaki-kaki tertekuk.”

Secara awam lukisan itu berisikan adalah tiga orang berkuda, saling menghunus dan memainkan pedang. Dengan latar manusia-manusia berkostum mirip aktor pertunjukan dan kuda-kuda yang berserakan di tanah, terinjak-injak, serta debu beterbangan akibat hentakan kaki kuda-kuda. Situasi menjadi kacau, samar, dan yang langsung bisa ditangkap: bengis.

Sedangkan epientrum lukisan, pertarungan tiga orang berkuda tadi, ia sebut sebagai ‘Struggle for the Standard’. Atawa jika melihat lukisannya dapat diterjemahkan menjadi ‘Berjuang demi Bendera’. Sebuah medium penyaluran purna dari hasrat manusia, mungkin jauh di atas hasrat kuda sekalipun: perang, pembantaian, dan beberapa nama lain yang mungkin jika digabungkan belum bisa menandingi peristiwa itu sendiri. Dan ‘Battle of Anghiari’ tentu saja.

Samarnya latar lukisan itu juga terlihat aneh jika dibandingkan berbagai karyanya yang lain. Leonardo disebut sebagai bapak seni abad modern karena artikulasi visualnya yang sangat detail dan jelas. Ia sanggup menuangkan ingatan fotografisnya ke dalam kanvas dengan tingkat presisi yang sangat tinggi. Seperti misalnya kerumitan dahan-daun-batang pohon dalam lukisan ‘Salla delle Asse’ dan gambaran bermacam-macam turbulensi yang saling mengkait disebabkan oleh jatuhnya tetesan air. Sekarang sebagian besar folionya ini dimiliki Windsor.

Tahun 1505, lukisan itu jadi. Boglia senang. Ia tak menyadari bahwa ia sedang dihajar.

Akan tetapi, lukisan tersebut masih lekat di ingatan beberapa orang. Terutama Francisco Melzi, murid Leonardo yang paling setia. Sejak kematian sang empu, tahun 1507, Melzi merupakan pewaris sah seluruh karya dan catatan Leonardo.

Mewarisi karya juga berarti musti mengabarkannya. Lebih-lebih jika hal tersebut adalah seruan untuk kemanusiaan. Melzi pun berkampanye tentang seluruh karya Leonardo. Agar kelak jika ia mati, ‘itu semua’ terus dijaga, dirawat, diingat, dan dimaknai lagi. Sekaligus Melzi juga berkampanye tentang manusia-itu-sendiri, dalam perang, dalam The Battle of Anghiari.

Hari ini, setelah sempat berpindah ke berbagai tempat, ia dipasang di Museum Louvre, Perancis.

Di museum itu dan tulisan ini, roh lukisan dan visi Leonardo tersebut mungkin terdistorsi habis-habisan. Entah interval sejarah, konsepsi perang modern, masalah reproduksi karya seni, dll. Ia tentu juga mengalami kemunduran dalam kondisi fisiknya. Tapi maksud dari lukisan itu mungkin masih saja lekat, seperti diingatkan oleh Leonardo sendiri: bahwa pengalaman tentang perang, pembantaian, kebengisan, adalah sesuatu yang harus dinalar. Kemudian ditanyakan kenapa ia dapat beroperasi.

Atau di titik minimal, inilah salah bentuk percobaan untuk menghambat kekejian demi kekejian manusia yang tidak mengenal waktu. Ini hanya ada di dunia seni! Seperti yang diujarkan Fritjof Capra, lukisan ini adalah “kutukan paling tajam dari dunia seni terhadap kedunguan perang.”[]