Kau Memanggilku sebagai Konsekuensi

Adakah hujan yang lebih deras dibanding kehidupan?

Ia membawaku ke punggung lembah. Disini aku merasa tenang, sangat tenang. Di depan mataku lewat sungai kecil. Jalur sempit tak menghalangi lembut suara air mengalir di dalamnya. Aku tekuk kakiku, duduk. Ia tetap berdiri.

“Pilihanku untuk pergi bukan pilihan yang tidak kupikirkan,” ia menjawab pertanyaanku yang sempat beku tadi, “Belum pernah aku merasa selega waktu itu.” Aku tidak punya balasan untuk jawabannya itu.

Lalu ia duduk di sampingku.

Lembah ini letaknya tidak jauh dari hamparan sawah. Antara mereka hanya terpisah oleh gundukan setinggi beberapa kali tinggi tubuhku, dengan jalan setapak yang membelah. Kalau langit mendung, biasanya ada kabut yang mengerubung, diantara pohon-pohon tua yang nampaknya sedang memasang tanda berkabung.

“Aku lega bukan karena aku berhasil pergi, tapi karena aku berhasil mengatasi keraguan di benakku,” ia mengatur nafas yang sepertinya akan tergesa, “terlebih lagi, dengan pilihan itu aku menjadi bukan lagi aku yang dulu.”

Aku melempar pandang ke arah wajah di sebelahku, heran.

Tampaknya ia mengerti kalau aku punya pertanyaan,

“Karena sekali lagi aku mampu menerima diriku sebagaimana diriku, bukan bagaimana seharusnya diriku.”

Aku berpikir keras. Kami terdiam agak lama.

“Aku tidak pernah memahamimu dengan utuh,” giliranku mengatur nafas,

“Aku menangkap suasana kalimat-kalimatmu, tapi aku tidak menangkap prosesnya. Kau tahu aku paham benar kalau kita tidak bisa lepas dari pilihan-pilihan. Tiap soal selalu menyediakan jawaban, dan tiap jawaban selalu menyatakan soal lainnya.”

Ia mengarahkan pandang ke arahku, menatapku lekat, lalu mengarahkan lagi ke depan. Rautnya nampak gelisah.

Adakah kata-kataku yang tidak pada tempatnya? Ataukah kata-katanya yang bergerak miring?

Bibirnya bergerak, “Aku tidak menyangka yang kau pahami justru pembalikan dari maksudku. Tiap kita usai memilih, tersisa hanya konsekuensi yang membawa pada pilihan lain. Jalani atau tidak segala konsekuensi dari pilihanmu. Itupun seringkali tidak semuanya. Tapi yang paling penting, kita harus berupaya menjalaninya. Kau pasti tahu maksudku. Kau paham benar diriku.

Sore datang dengan cantik. Bayangan kami semakin memanjang. Ia melindungiku dengan bayangannya dan aku melindungi pohon disampingku dengan bayanganku. Di depan kami ada sepasang lagi yang siap bertemu dan bergulung erat. Cahaya dan gelap. Mereka akan bercinta, kalau bukan berzina beberapa saat nanti.

Pemilik bayangan yang menumpuk tubuhku ini aku kenal sejak lama, sangat lama bahkan. Kami muncul dari kantong air yang sama. Bedanya ia beberapa tahun lebih dulu. Sejak lama pula aku tidak pernah mengenalnya dengan kuat. Ia mudah sekali mengacuhkan hal-hal yang malah aku anggap sangat penting. Kami lebih sering saling memunggungi daripada saling menatap.

“Konsekuensi-konsekuensi yang aku bicarakan dalam banyak hal biasa disebut akibat. Kau sudah tahu kalimatku selanjutnya,” ia menahan sejenak ucapannya, aku tetap diam, “tiap akibat muncul oleh sebab.”

“Kalau pilihan menyediakan konsekuensi, yang artinya memberikan pilihan turunan untuk dipilih, dan terus berulang, lalu kenapa kau mau repot-repot memilih?” aku mulai menemukan detak pembicaraan ini,

“Sedangkan untuk diri sendiri saja seringkali kita tidak bisa menghindar.”

“Perbedaannya terletak pada sejauh mana batas konsekuensinya kau letakkan,” ia memberi isyarat cukup tegas tentang keteguhannya.

“Itu ada di luar kendali alam sadar kita,” aku coba menolak kalimat terakhirnya, “Kalau kau tahu dimana letak batas terjauh konsekuensi yang kau lemparkan, itu sama halnya dengan dengan tidak memilih. Bayangkan kalau aku melemparkan konsekuensi suatu hal ke pilihan yang sama, maka aku melakukan hal yang sama dua kali dalam rentang waktu hampir berurutan.”

“Itu bodoh namanya,” ia menyahut, suaranya meninggi.

“Hanya sedikit orang yang melakukan itu, dan kau tahu sedikit orang itu siapa? Orang gila. Dan aku yakin kau belum sampai kesana.

Aku diam, mencoba tetap tenang. Kupandangi terus bergiliran sungai di bawahku dan barisan genteng di depanku.

“Tidak ada yang dilahirkan dalam keadaan gila, ingat itu,” usai berkata, ia berdiri.

Aku berusaha keras untuk tenang, sambil meneruskan kalimatku tadi, “Apalagi jika datang dua situasi dengan dua pilihan di masing-masing situasinya, tapi kau harus bersamaan memilihnya. Bagaimana jika ternyata kedua konsekuensinya bertemu pada satu titik? Atau minimal memiliki kaitan?” aku masih tidak berani menatapnya, “Kalau kau tahu dimana batas konsekuensi pilihan-pilihanmu …”

“Sudahlah, nadanya seolah ingin menerkamku, “Jangan anggap hidup kita yang paling berat. Jangan anggap seolah kau adalah manusia yang harus mengambil pilihan paling dilematis di permukaan dunia. Jangan pernah berpikir seperti itu!”

Ada apa dengannya. “Lantas kenapa nadamu meninggi? Kenapa kau marah?” aku tak sabar menanti ia menjawab.

Tapi justru kami berdiam diri cukup lama.

Seperti yang aku duga, dalam diam kami bersama-sama menyaksikan drama percintaan alam: awan dan cahaya bercumbu.

“Aku sadar kata-kataku tidak tepat benar, aku hanya mencoba meluruskan apa yang aku anggap bengkok dari pemahamanmu,” nadanya kembali datar seperti biasanya.

“Ya aku tahu. Sejak kau pergi dari rumah mas, aku selalu bertanya kenapa aku harus dilahirkan,” dan aku sudah menyiapkan kata-kata ini sejak awal perbincangan kami, “Dan kenapa aku diberi kehidupan hanya untuk bebas.”

“Maafkan aku. Dulu aku memanggilmu sebagai konsekuensi bagi hidupku. Saat ia melahirkanmu, aku tahu aku tidak akan pernah lagi menjalani hidup yang sama,” ia tetap memandang lurus ke depan, “Aku harus membiayai sekolahmu, mengurus kebutuhanmu, memberikan kebebasan yang dulu milikku padamu. Aku sungguh minta maaf.”

Aku tak menyangka ia menyebutkan hal itu.

“Baiklah, kalau demikian, ambil saja hidupmu yang dulu. Silahkan. Aku yang akan mengambil keterpenjaraanku sekarang.” Aku tinggikan suaraku.

“Tak perlu, aku tak mau. Aku terlanjur menyatu dengan penjara itu.” Ia menimpali dengan suara yang sama tingginya, “Jalani saja hidupmu.”

Kami lalu mendiamkan masing-masing lagi. Ingin rasanya aku muntahkan gelisahku, tapi aku tahu ia tak akan peduli. Kami berdua sama-sama dilahirkan egois. Dituntut untuk peduli hanya pada hidup kami masing-masing. Kalau ada yang mengikat kami, mungkin itu hanya hukum kausalitas. Lebih tepatnya, aku adalah akibat dari apa yang pernah ia lakukan dulu dengan ibu. Sekarang aku cuma ingin memandanginya lebih lama. Terima kasih kebebasan karena ia lah yang mengijinkanku untuk mengutuknya setiap hari. Sampai hari ini, hari kematian ibu.[]

Melampaui Memori Kolektif tentang Kuasa: Makan Kelaminmu





(Tinjauan singkat atas performance-art Fen-Ma Liuming’s Lunch (1994) oleh Ma Liuming)





Sebuah pemaknaan baru atas kelamin: makan siang. Adalah perlawanan pada otoritarianisme, pada rejim kuasa, yang terlembaga dan yang menyebar. Saya tak pernah membayangkan seniman lain beraksi atau memproduksi karya sedalam struktur instingtif tersebut. bagaimana kelamin –alat reproduksi, alat pembuangan kotoran, sekaligus alat pemujaan pada ritual-ritual—menjadi menu utama makan siang.

Cina, yang kita tahu bersama sebagai negara dengan power raksasa ‘memberikan ijin’ tampilnya Ma Liuming, dengan perlawanan sedahsyat itu. Hei, apa lagi perlawanan yang begitu tajam, yaitu pemujaan-pada-yang-purba? Sekaligus menggunakannya sebagai perangkat untuk melawan aparatus negara? Juga yang begitu maskulin? Makanlah.

Ma Liuming dengan elegan menampilkannya. Ada mata nanar menatap kejauhan, seolah menolak segala jenis kejijikan (ini ditunjukkan dengan tetap ‘memakan’ kelaminnya). Sepotong daging matang siap makan dibiarkannya tenang di meja. Sama sekali tidak disentuh. Karya ini –Lunch– adalah sebentuk perlawanan ‘purba’pada kuasa yang juga purba. Namun apa yang dilawan terus-menerus berhasil memanipulasi dirinya, menjadi modern, oleh karenanya rasional.

Lunch adalah demonstrasi tubuh yang subversif. Tubuh yang melampaui memori kolektif tentang ketenteraman, tentang stabilitas norma-norma, tentang kenormalan-awam: tentang kuasa. Ditambah pada kealpaan (kalau bukan penolakan) pada daging goreng garing di hadapannya tersebut, melebarkan perlawanannya pada subyek lain yang berkuasa: teknologi.

Pada titik ini, saya teringat salah satu petikan dari esai F. Budi Hardiman, Massa dan Teror (2001), “keberanian apa yang lebih hebat selain perlawanan pada yang maha kuasa?”[]

Perlawanan pada Wabah: Perlawanan pada Penjajah




(Aku tulis ‘surat’ ini di tahun itu)*

untuk Tarrou:

hei Sahabat, lihatlah laut itu yang kita selami saat petang itu.

-Rieux-










Oran, dalam Minotaur[i] digambarkan dengan buram, maklum ia baru pulang menjelajah kota-kota di dataran Eropa. Ada tembok batu yang menjalar memanjang di sepanjang perbatasan. Pelabuhan yang sepi, dengan beberapa kapal yang terlanjur merapat. Pos-pos penjagaan diperketat: dua orang bergantian mengawasi selama 12 jam penuh, kemudian diganti dua orang lain 12 jam berikutnya. Begitu seterusnya.



Di dalam kota, trem-trem menyemburkan bau busuk. Orang-orang berlarian disamping dan belakang, mencoba menjangkau lajunya. Jika sempat mendekat, mereka melemparkan bunga. Nahasnya, hanya trem itulah sisa masa lalu, tidak ada mobil lalu-lalang, juga tidak ada hewan peliharaan. Di jalanan bahkan gang sempit.



Angka-angka yang dikeluarkan pemerintah kota menunjukkan kepedihan. Berbulan setelah meluas, keluarga yang ditinggalkan makin meluas. Utara, selatan, barat, dan timur kota, rata. Menggunakan oven tua raksasa, pembakaran mayat mulai dilakukan sejak tanah pekuburan tidak mampu lagi menampung mayat yang tiap harinya bertambah.



Sejak sampar menyerang, kota memang ditutup, sedikit yang datang atau keluar. Yang datang hanya bantuan logistik dari udara, dan kematian. Sedangkan yang keluar hanya kabar, telegram, dan kematian.



Sedangkan laut yang pernah kita selami itu -setelah sebelumnya kita datangi seorang pasien yang loteng rumah sempat kita pakai untuk meresmikan persahabatan kita- tetap sama. Tidak ada yang berubah. Mungkin hanya ombaknya, yang tampak bertambah kuat.



Tadi aku bertemu Rambert, wartawan dari Perancis itu. Beberapa bulan ia mempertahankan kegigihan hatinya untuk keluar dari kota ini. Berkat bantuan Cottard yang memperkenalkannya dengan dua orang keturunan Spanyol, ia nyaris berhasil menyelinap ke luar kota. Lalu di suatu malam saat kau berinisiatif untuk membentuk tim sukarelawan medis demi membantu dokter sepertiku, ia berdamai pada dirinya sendiri. Ia ‘memilih’ untuk jadi warga kota Oran, sepertiku, sepertimu, dan seperti Cottard juga.



Nampaknya ada satu orang lagi yang harus tampil disini, Pastur Paneloux. Aku ingat kata-katanya, mengenai cinta Ilahi yang sukar, yang dapat berupa kehidupan yang sejahtera, juga sampar ini. Tentu saja aku sangsi, secara ilmiahpun itu tidak memadai. Seperti munculnya ribuan tikus yang mati di jalanan, datang menjemput wabah, lalu mengetok pintu-pintu rumah, dan pintu manapun.



Ketiga orang diatas, setelah sampar selesai, hanya Cottard yang mati. Ia mendadak gila![ii] Menembaki orang-orang dan polisi. Bahkan anjing yang tidak sengaja terlihat dari kaca ruangan apartemennya. Bukankah kepahlawanan seperti ujarmu, selalu hampir saja diraih? Dan Cottard belumlah pantas jika disebut antagonis dalam cerita yang baru saja berlalu ini.



Santoisasi terus berlangsung. Wabah makin kokoh menduduki kota, serupa penjajahan, yang merampas hak milik kita atas tanah, rumah-rumah, atas harta-benda, dan sialnya atas hak untuk hidup kita sendiri. Meskipun belum ada yang memilih untuk bunuh diri, namun mata penduduk jelas menyiratkan kesuraman yang teramat susah dipahami. Tapi pastur itu masih saja mengatakan bahwa itu cinta Ilahi. Sungguh, dengan segala kerendahan hati dan hormat, pandangan dunia yang ilmiah akan mementahkannya.



Sebelum ini, kita hanya percaya pada renyah dan romantisnya hidup. Ada sedih, ada riang. Ada kegagalan, ada keberhasilan. Ada pedih, dan tentu saja ada harapan. Tapi sesekali kita juga harus mafhum, bahwa harapan bisa saja terlepas seutuhnya -serta bahwa itu semua cuma bualan-. Porak-porandanya struktur biner tersebut menjadi bukti sahih bahwa wabah yang berkepanjangan hanya meninggalkan satu pesan: kebingungan.



Ya, waktu istriku pergi berobat ke gunung, sebulan, dua bulan, sampai di masa-masa akhir perang dengan wabah ini, aku tak pernah menyangka kalau aku bahkan sejenak saja pernah merindukannya. Nyatanya ia meninggal terlebih dahulu di sana. Seperti Rambert yang bingung saat mengalami puncak kerinduan pada perempuannya di Perancis, lantas bergumam: jika nanti bertemu, siapakah yang asing, dia yang datang atau dia yang menunggu?



“Bukankah hidup dalam situasi ‘seperti ini’ hanyalah membutuhkan pengetahuan dan kenangan?”[iii]



Aku ulangi, kaum terjajah wabah seperti kita dan warga kota tidaklah terlalu buruk jika dibandingkan saat pastur Paneloux -dalam khotbahnya yang ramai- mengatakan, “wabah ini pantas diberikan pada kita,”[iv] bagaimana mungkin?



Aku jelas mengingatmu, yang memberikan segenap daya-upaya untuk menghambat gerak wabah. Saat kita sudah sama-sama lelah di bulan Desember, tiba-tiba pastur meninggal. Ia juga terjangkit wabah. Padahal sebelumnya, ia sempat berkhotbah lagi, meski tidak seramai yang pertama.



Pastur menyatakan dengan terang, bahwa dialog antar dirinya dengan seorang dokter -aku- musti dilaksanakan demi mencari jalan keluar bagaimana wabah ini harus dihadapi.[v] Oh, begitupun kau jelas mencatat ternyata kasih Tuhan saja tak cukup. Perlawanan harus dihadapi dari kenyataan. Demikian juga dengan ketidakmemadaian serum yang baru saja ditemukan.



Aura ‘kepahlawanan’ yang memancar dari gerakmu, membuatku semakin merasa lelah. Aku menyadarinya saat kau jatuh dan menunjukkan dua gejala sekaligus dari wabah ini.[vi] Aku dan ibuku yang bergantian menjagamu, melihat kau bertahan dalam diam menghadapi sakit di tubuhmu sejak malam sampai siang. Tiba-tiba aku ingat segala jenis percobaan dan upayaku berkeliling serta mendiagnosis wabah ini. Dan itu sungguh-sungguh membuatku lelah.



Apa yang kita lakukan tak pernah memberikan hasil, korban terus berjatuhan. Grafik dalam statistik terus saja mencatat kenaikan korban jiwa. Siapapun! Meski telah memakai pelindung yang diberikan oleh pemerintah kota. Meski telah memakai suntikan yang baru aku pesan dari pusat kesehatan di luar kota. Meski telah menyimpan kegelisahannya sendiri. Meski…



Kaupun demikian, yang memulai pertama kali membentuk sukarelawan penanggulangan korban wabah…



Setidaknya saat kau kalah dalam pertempuran tersebut, kehilangan nyawa, aku membuktikan sendiri bahwa tidak ada orang suci di kota-yang-terkena-wabah. Tentu saja juga tidak ada pahlawan. Tapi setidaknya aku juga membuktikan kata-katamu, yang membuat aku harus menulis surat ini untuk dibaca warga kota: kalaupun kita harus bertempur, aku akan berdiri di samping korban, yang artinya aku tidak akan pernah mendukung wabah.[vii] Dan bagaimanapun, kau adalah salah satu yang bertahan paling akhir, walau tak pernah sampai 25 Januari.[viii]












Catatan Kecil:

* Sebuah upaya untuk meresensi novel Sampar, ditulis oleh Albert Camus, diterjemahkan oleh Nh. Dini.

[i] Albert Camus dalam salah satu esainya, Minotaur, (kumpulan esai Summer) menerangkan dengan gamblang Kota Oran yang sedang berada di persimpangan hasrat. Termasuk segala pernak-pernik, aktualitas-semu, dan nafas kota yang sedang terengah-engah. Seperti yang ditunjukkan lewat deskripsi mendetail mengenai bagaimana sebagian warga kotanya begitu menggemari dansa, sekaligus tersiksa denga nilai-nilai ‘estetis’ di yang mengitari aktivitas tersebut. Saat para pertandingan tinju bawah-tanah ternyata tidak lagi menjadi pertarungan dua orang petinju, melainkan menjadi medan paripurna bagi hasrat-hasrat yang tidak pernah tuntas dipertontonkan di permukaan-tanah. Lebih-lebih, di awal esai tersebut Camus mengaku kota-kota di Eropa tidak semenarik Oran.


[ii] Kejadian yang menjadi poin penting bagi sisi-gelap perlawanan terhadap wabah: saat wabah selesai, Cottard kehilangan pekerjaannya yaitu menyelundupkan warga yang ingin lari dari kota dan memperdagangkan barang-barang dari luar dengan harga tinggi di dalam kota.


[iii] Kata-kata ini disimpulkan oleh Rieux ketika selesai bercakap dan membaca catatan Tarrou.


[iv] Khotbah Pastur Paneloux yang pertama, di awal-awal wabah sampar menjangkit Oran.


[v] Khotbah Pastur Paneloux kedua, wabah mencapai puncaknya.


[vi] Pada umumnya para korban wabah Sampar, seperti yang ditulis Camus hanya menderita satu gejala, sampar paru-paru atau bengkak di sekujur tubuh.


[vii] Tarrou, dalam catatan dan dalam suatu pembicaraan dengan Rieux.


[viii] Tanggal itulah pemerintah kota menyatakan meredanya wabah Sampar. Dimana listrik mulai dinyalakan dengan semestinya, perbatasan kota mulai dibuka. Kereta dan kapal laut mulai keluar-masuk. Semuanya ‘mengembalikan Oran seperti semula’.

Buku (dan Bacaan), Perpindahan Kelompok Umur, dan Penyembuhan Luka Sejarah

Bagi yang berdomisili di kota dan atau pusat-pusat aktivitas ekonomi. Hari ini buku atau bacaan lain seperti koran dan majalah, mungkin telah menjadi lazim dan mudah sekali ditemukan di ruang tamu keluarga. Belum lagi jika ditambahkan pelbagai ruang publik seperti warung, kedai, kafe, dsb., yang menyertakan buku dan bacaan-bacaan tersebut sebagai ‘nilai tambah’ untuk menarik para pelanggan.

Secara kasar dan sederhana hal ini dipengaruhi oleh tiga hal mendasar, pertama situasi sosio-ekonomi-politik pasca-orde baru. Kedua, meningkatnya populasi kelas menengah. Terakhir, semakin menjamur dan murahnya alat-alat produksi terkait seperti mesin cetak, fotocopy, dan printer.

Mau tidak mau, faktor pertama menjadi kunci yang membuka jalan bagi faktor kedua dan ketiga. Melubernya informasi di ruang-ruang bebas hambatan (internet) terkait erat dengan produksi bacaan cetak yang semakin tinggi, mayoritas buku dan koran yang tidak perlu khawatir lagi ketika mengabarkan sesuatu, dll. Semua hal ini juga memegang peranan penting terhadap semakin banyaknya informasi yang terserap oleh khalayak ramai.

Faktor-faktor tersebut sejatinya banyak diulas di berbagai tulisan sehingga tulisan ini tidak ingin terlalu menyentuh persoalan faktor-faktor tersebut. Tulisan ini lebih bertendensi untuk menimbang ekses, manfaat, atau efektivitas masifikasi buku dan bacaan lainnya tersebut.

Setelah Soeharto tumbang, tingkat Angka Melek Huruf (AMH) di Indonesia mengalami peningkatan yang signifikan. Angka ini didapat dari jumlah penduduk dikurangi angka buta huruf. Tentu saja sebelumnya dengan mengasumsikan bahwa BPS ‘selalu’ kompeten dan tidak diintervensi kekuasaan (atau bebas-nilai) dalam melakukan pekerjaannya.

Data dari situs resmi BPS menyebutkan bahwa pada tahun 1998, angka buta huruf untuk usia 10+ th, 15+ th, 15-44 th, dan 44+ th berturut-turut adalah 10.58%, 12.11%, 5.15%, dan 29.74%. sedangkan 11 tahun setelahnya, atau tahum 2009, angka buta huruf untuk usia 10+ th, 15+ th, 15-44 th, dan 44+ th berturut-turut 6.59%, 7.42%, 1.8%, dan 18.68%. Ada penurunan buta huruf 3.99% (10+ th), 4.69% (15+ th), 3.35% (15-44 th), dan 11.06% (44+ th).

Dari data diatas, didapatkan angka melek huruf untuk warga negara Indonesia pada tahun 2009 sebesar 96.01% untuk kelompok umur 10 th, 95.31% yang berusia 15+ th, 96.65% pada kelompok usia 15-44 th, dan 88.94% bagi warga negara 44 th ke atas.

Jika angka-angka tersebut diolah lagi, maka dapat diasumsikan bahwa dalam rentang waktu 11 tahun, ada perpindahan di tiga kelompok umur termuda. Untuk kelompok umut 10+ th dan 15+ th, dapat dipastikan akan berpindah ke kelompok umur 15-44 th, kecuali meninggal dunia atau pindah ke luar negeri.

Bagi anggota kelompok umur 15-44 th yang pada 1998 berusia 33+ th, tentu akan berpindah ke kelompok usia 44+ th. Jadi ada sekitar 37.93% orang yang pada rentang waktu 11 tahun (1998-2009) berpindah (11 th, atau usia >33 th pada 1998 diasumsikan berpindah ke kelompok usia 44+ th). Sedangkan 18 th orang termuda (atau 62.06%) di dalam kelompok tersebut masih menempati kelompok umur yang sama.

Untuk kelompok 44+ th sendiri tidak mengalami perpindahan, hanya bertambah. Dengan asumsi jumlah warga negara Indonesia yang tidak mengalami penurunan, seperti yang ditunjukkan data BPS tahun 2010 (angka sementara) yaitu 237.641.326 orang dari tahun 2000 yang berjumlah ‘hanya’ sebanyak 206.264.595 orang. Ada sekitar 31.376.731 pertambahan nyawa di Indonesia selama rentang waktu tersebut.


Luka Sejarah, Luka Generasi ‘Tertentu’

Titik tekan yang ingin dituju oleh tulisan ini adalah efek dari melubernya buku dan bacaan dalam mengobati ‘luka sejarah’ akibat dari peristiwa dan pasca-peristiwa 30 September 1965.

Lepas dari perdebatan siapa yang melakukan, bagaimana caranya, dan untuk apa, satu fakta yang tidak dipungkiri adalah jatuhnya korban jiwa dalam jumlah besar. Jatuhnya korban jiwa saat sedang dan setelah peristiwa ini menimbulkan dampak traumatis yang mendalam bagi banyak pihak, atau untuk memudahkan diringkas menjadi: luka sejarah.

Soeharto yang secara de facto berkuasa beberapa saat sejak gerakan tersebut memimpin Indonesia hingga Mei 1998. Ia dengan ‘cerdas’ mengolah persitiwa 1965 tersebut untuk melestarikan kekuasaannya. Gerakan yang dilakukan sederhana: arahkan kejadian tersebut demi memperkuat kekuasaan.

Kita semua tahu bagaimana Orde Baru memproduksi dan mereproduksi kejadian tersebut. Melalui produk-produk yang dihasilkan dan terus-menerus ditanamkan seperti: film ‘G 30 S/PKI’, slogan-slogan pembunuhan pada gerakan ideologi tertentu, dsb., ia sukses mendiamkan banyak pihak yang setidaknya punya data untuk mengklarifikasi terang peristiwa tersebut.

Efeknya adalah keseragaman pola pikir sebagian besar warga Indonesia yang hidup pada rentang waktu kekuasaan Soeharto tersebut, 1960an awal-1990an akhir. Dengan asumsi penduduk Indonesia yang dewasa pada tahun-tahun 1960an awal-1990an akhir, maka hampir dapat dipastikan bahwa mayoritas penduduk Indonesia tidak memiliki jaring informasi ‘yang-lain’ di luar yang telah diprogramkan oleh pemerintah orde baru. Barangkali ada segelintir kelompok masyarakat saja yang memiliki informasi dan meyakini bahwa Gerakan 30 September 1965 bukanlah pemberontakan PKI seperti diceritakan orde baru.

Ini terlihat ketika masa pemerintahan telah berganti, Abdurrahman Wahid atau yang lebih dikenal dengan nama Gus Dur melakukan manuver politik dengan mengusulkan pada MPR waktu itu (tahun 2000) untuk mencabut Tap MPRS No. XXV/MPRS/1966. Usulan ini mendapat reaksi keras dari sebagian kelompok masyarakat dengan melakukan serangkaian aksi di jalan, mengeluarkan pernyataan penentangan di media massa, dsb.

Pada akhirnya usulan ini dimentahkan MPR waktu itu. Dikarenakan seluruh fraksi di dalam MPR saat rapat Panitia Ad-Hoc pada bulan Mei tahun 2000, termasuk PKB (yang awalnya digunakan oleh Gus Dus sebagai kendaraan dalam usulan ini) menolak usul tersebut.

Jika seluruh fraksi diandaikan mewakili sebagian besar warga negara Indonesia (kecuali yang golput atau asal-asalan mencoblos), maka beberapa tahun sejak tumbangnya orde baru pun mayoritas warga negara Indonesia tetap mengamini garis yang telah ditetapkan Soeharto. Tentu saja dalam konteks memandang Partai Komunis Indonesia dan luka sejarah yang disebut ‘Gerakan 30 September’.

Pun demikian dalam memandang jatuhnya jutaan korban jiwa akibat peristiwa yang sampai sekarang masih buram tersebut. John Roosa dalam ‘Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta Suharto’, bahkan menggambarkan bahwa pembantaian massal pada orang-orang ‘komunis’ yang dilakukan oleh rejim pasca peristiwa itu sebagai ‘salah pertumpahan darah terburuk yang di abad 20.’

Pola pikir generasi yang masih hidup ternyata lekat dengan luka sejarah tersebut. Di satu sisi ada generasi yang terluka akibat tindakan yang dilakukan orang-orang komunis ditambah lagi orang-orang yang ‘termakan’ oleh produksi dan reproduksi informasi rejim orde baru waktu itu. Sedangkan di sisi lain ada generasi dalam rentang waktu bersamaan yang juga terluka karena sistematika kebijakan rejim Soeharto saat melakukan pembantaian pada orang-orang komunis dan yang tertuduh ‘komunis’.

Sayangnya, usaha Gus Dur di wilayah kenegaraan di awal masa reformasi (tahun 2000) untuk merekonsiliasi luka sejarah dengan pertama kali mencabut ketetapan MPRS yang menjadi penanda adanya luka sejarah tersebut gagal. Bahkan menimbulkan preseden dan prasangka padanya yang menjadi salah satu alasan MPR untuk mencabut mandatnya sebagai presiden. Selain tentu saja manuver politiknya yang lain: ‘dekrit’.


Buku (Bacaan), Perpindahan Kelompok Umur, dan Penyembuhan Luka

Data-data angka yang dibeberkan diatas menjadi simpul dalam tulisan ini untuk menyatakan bahwa ada generasi tertentu yang memiliki luka sejarah. Data-data angka tersebut kemudian menjadi penting utamanya terkait pada warga negara melek huruf yang makin lama makin meningkat di semua kelompok umur, , serta bagian pentingnya yang menjadi pusat tulisan ini adalah penyembuhan luka tersebut lewat buku dan bacaaan-bacaan lainnya.

Generasi yang pada rentang waktu 1998-2009 masuk pada kelompok 44+ th tentu akan melewati masa dimana produksi dan reproduksi ‘anti-komunis’ yang dilakukan oleh rejim orde baru. Demikian juga yang berada kelompok umur 15-44 th, sebagian besar akan melalui fase-fase tersebut. Atau setidaknya dijejali entah lewat tayangan, sekolah, dsb, meskipun sebagian besar tidak sempat mengalami sendiri peristiwa tersebut.

Pasca 1998, dalam konteks ini kemungkinan besar produksi dan reproduksi informasi tidak lagi berpusat pada garis yang telah ditetapkan orde baru. Media-media yang cenderung semakin bebas mengakses informasi lalu mendistribusikannya dengan bebas juga menyempitkan peluang adanya jejaring informasi tersistematisasi seperti pada orde baru.

Akan tetapi peluang untuk menyembuhkan luka tersebut masih terbuka lebar.

Salah satu medium untuk melakukannya tentu saja lewat buku dan bacaan-bacaan lainnya. Terbitnya pemaparan fakta seperti yang ditulis John Roosa atau beberapa buku lain yang tidak akan mungkin boleh terbit waktu kekuasaan orde baru, memberikan sudut pandang alternatif dalam memandang peristiwa Gerakan 30 September (atau Soekarno menyebutnya ‘Gestok’ -Gerakan Satu Oktober-). Hingga justifikasi berlebihan yang terburu-buru pada satu kelompok sangat mungkin untuk dihindarkan. Tidak seperti anak-anak usia sekolah yang setiap peringatan tertentu dipaksa menonton film yang disodorkan pemerintah dan mengakhiri tayangan tersebut dengan berkata, “Komunis itu jahat ya…” atau “orang-orang komunis itu tidak punya Tuhan,” dsb..

Jacques Derrida dalam dua kumpulan esainya yang dibukukan, On Cosmopolitanism and Forgiveness (1997, edisi terjemahan Bahasa Inggris 2001), mengungkap dengan jelas bahwa pertama-tama yang harus dilakukan untuk menyembuhkan luka adalah seluruh komponen suatu komunitas dalam suatu teritori (mulai dari yang terkecil sampai paling besar: negara) menyatukan pendapatnya untuk memberikan pengampunan.

Akan tetapi mustahil apa yang diungkapkan Derrida tersebut menjadi kenyataan apabila kesepahaman atau konstruksi yang ditanamkan sejak belia menutup kebersatuan pendapat atas pengampunan. Seperti yang telah coba disentuh diatas, satu dari beberapa cara yang bisa dilakukan adalah terus memproduksi perspektif yang berbeda, tentu saja harus disertai fakta-fakta yang mumpuni.

Pada satu titik, ujar Derrida, generasi yang terluka diharapkan dapat melampaui ‘masa lalu’ (atau luka sejarah tersebut) sembari tidak mereproduksinya lagi pada generasi setelahnya. Hal ini bukan berarti cerita seputar kekejaman penghilangan dan pembantaian nyawa tidak perlu dilakukan, akan tetapi lebih pada minimalisasi tendensi atau stereotyping pada suatu kelompok tertentu yang diduga menjadi biang luka sejarah tersebut.

Hal ini menjadi penting karena reproduksi yang dimaksud bisa dilakukan oleh dan untuk siapapun, entah jurnalis pada pembaca, guru dan dosen pada anak didik, sutradara pada penonton, ibu rumah tangga pada anak-anak mereka, antar teman sepermainan, dan banyak lagi jenis lainnya.

Akan tetapi ketika beragam perspektif alternatif lewat buku atau bacaan yang dimaksudkan untuk mengklarifikasi atau mengimbangi perspektif yang dijejalkan orde baru bermunculan, maka justifikasi yang berlebihan atau paradigma saling-menyalahkan selama ini akan terus tereduksi, hingga kemudian hilang.

Prasyarat untuk melakukan hal ini telah tersedia, yaitu Angka Melek Huruf yang makin lama makin meningkat. Namun hal ini memunculkan permasalahan baru. Informasi yang bagaimanakah yang akan diserap tersebut, apakah informasi yang kandungan luka sejarah kuat atau yang membuka peluang untuk memberikan dan atau meminta pengampunan?

Maka sekarang tugas Warga Negara Indonesia yang telah berpindah ke kelompok umur 15-44 th dan 44+ th untuk mengupayakan penyembuhan luka sejarah tersebut. Karena bagaimanapun, dua kelompok umur itulah yang memegang hampir seluruh jaringan kekuasaan dan utamanya, pusat produksi informasi plus sistem pendidikan di negara ini.

Dalam beberapa hal, ini akan menjadi mudah dan sederhana seiring dengan optimisme Derrida waktu mendaratkan esainya, ‘On Forgiveness’, untuk korban pembantaian perang di Eropa, Perang Dunia, korban Nazi Jerman, Perang Cina-Jepang, dll.

Jika satu generasi sepakat untuk menyembuhkan luka untuk bekal generasi berikutnya, maka produksi buku dan bacaan akan mengarah ke arah yang sama. Terlebih jika ditambah adanya pemberian pengampunan terhadap suatu generasi tertentu.

Dengan mempertimbangkan aspek bahwa generasi setelahnya pada sisi normatif butuh memori kolektif yang konstruktif untuk mengelola dirinya, yang pada akhirnya berguna saat mereka memimpin negeri ini.

Sedangkan di sisi realistis, banyak indikasi bahwa generasi yang baru muncul itu tidak butuh dan tidak peduli terhadap luka yang dialami generasi di atasnya, karena mereka tidak mengalami secara langsung, dan mungkin saja, tidak berdampak apapun. Singkatnya, buat apa mereproduksi ‘luka’?

Apa yang dilakukan Gus Dur, dengan usulan mencabut Tap MPRS No. XXV/MPRS/1966 dan meminta maaf pada keturunan orang-orang yang dituduh PKI dapat memberikan simpul bagaimana luka sejarah dapat diupayakan untuk sembuh. Ekses dari hal ini adalah produksi informasi oleh media massa. Dibaca luas, ditanggapi, dan disimpulkan oleh publik.

Serupa halnya dengan buku-buku sebagai medium pengawetan informasi yang akan dibaca oleh kelompok umur manapun, seiring berjalannya waktu. Meluasnya dimensi pengetahuan yang didapatkan dari membaca buku (dengan perspektif-perspektif alternatif) tentu membuka peluang yang lebih besar untuk menyembuhkan luka tersebut daripada dimensi sempit apabila buku, bacaan lain, atau informasi lainnya ditentukan isinya dilarang untuk terbit, dan dibakar oleh penguasa, atau tindakan barbar purba lainnya.





Referensi:

Buku:

Jacques Derrida (2001), On Cosmopolitanism and Forgiveness, Routledge.

John Roosa (2008), ‘Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta Suharto’, Hasta Mitra.

Situs:

http://www.bps.go.id/tab_sub/view.php?tabel=1&daftar=1&id_subyek=28&notab=5

http://www.bps.go.id/tab_sub/view.php?tabel=1&daftar=1&id_subyek=28&notab=1

http://www.antaranews.com/view/?i=1172836072&c=NAS&s=

http://www.unisosdem.org/article_detail.php?aid=2631&coid=3&caid=22&gid=3

Tiga sendi air mata yang-sakral, tiga kisi-kisi lainnya

Sebuah Cerpen Apresiasi atas Karya Grafis Widi Widahyono berjudul ‘Skenario Diam-Diam’



Awalnya aku pikir ia datang sendirian, tapi, ternyata ia datang dengan kekasihnya. Bukan, hmm... tidak, aku tidak cemburu. Ini terlalu kusut untuk kau sebut cemburu.

Noktah pelangi di wajahku, tentu saja aku melihatnya di cermin tuaku, sudah tumbuh. Ia punya akar di kepalaku, di dadaku, di sikuku, di jempol kakiku, dan di kelaminku.

Aspal jalanan melunak saat malam mulai meninggalkan kelam, disamping kehendaknya yang menjebak para sepatu, ia gelisah. Apa yang harus ku lakukan setelah puas?

***

“Menarilah di glosarium kenyataan, saat orang-orang tertidur lelap.” Ex Scientarium.

Ia terus mendesakku, dengan material, dengan kumpulan, lebih-lebih dengan raut wajahnya yang lemas. Inikah erotisme? kapan aku bisa terangsang? Aku belum tahu jawabannya.

Dia pernah berkata demikian, lalu demikian-demikian lainnya. Sampai setebal buku yang aku ingat. Kau dan kekasihnya, tentu juga ingat.

***

Seluruh tubuhku kejang, kaku. Kau, yang kusebut terus sepanjang dewasaku, aku mohom hembuskan nafasmu. Jadi aku bisa tenang di remang karang.

Aku yakin harus ada yang mengabadikan terbitnya matahari. Saat pertama kali cahaya menghujam tanah. Harus!

“Berjalanlah di detik demi detik leher manusia, karena ia yang menghubung-pisahkan otak dengan hati.”

***

Temui aku nanti, akan kuberi semua keinginanmu. Sekarang buku pakaianmu, lalu menunduklah, tekuk lenganmu, dan telungkupkan jari-jarimu. Mulailah berkomat-kamit.

***

Aku mengingat jelas kata demi kata darimu, “kualitas akal budi ditentukan sejauh mana ia bisa memilah dan membagi alokasi hasratnya...” Waktu itu suaramu terdengar muram, parau sekali. Untung aku berada dekat, sangat dekat denganmu, mungkin kita hanya menyisakan jarak sedikit saja.

Interval sejarah yang kita lipat hingga jadi hanya setitik itu sayangnya tidak diimbangi konsensus akan beberapa hal, itu yang aku sesali, “mungkin kita hanya berbeda untuk hal ini,” selalu begitu yang kau katakan, selalu.

Kau pelajar yang baik, aku juga. Aku memiliki sebagian keinginanmu, kau memutuskan menjalankan sebagian kemauanku. Aku membenci yang kau benci, dan kau mencintai yang aku cintai. Kau hidup di dunia yang aku buat, dan aku, hidup di wilayah yang kau petak-petak sendiri. Kita kurang apa?

Jawabannya mungkin, hanya satu, “aku akan kembali padanya...” Tulang-tulangku langsung nyeri jika kau mengatakannya. Apalagi kalau sorot matamu menegas dan dahimu mengeras. Sumpah, jangan kau ulangi di depanku.

Sedangkan aku? Sungguh mending kau kucilkan aku ke tempat kemana saja kau ingin, atau ke neraka? Aku rela, asal tidak kembali padanya... tapi kenapa ia telah memaklumatkannya, kenapa? Akankah kau percaya kelam yang kita rasakan ternyata tidak cukup untuk membuatmu bangga menjadi putra air mata.

Entah, kita sudah sama-sama dewasa. Tak perlu kita saling menarik kerah, mencaci, memukul, atau menusuk. Cukup dengan kata-kata, cukup dengan isyarat mata, karena dua hal itu adalah perspektif.

Kita pernah berbincang lama, tentang kategori, tentang bentuk, tentang tubuh, tentang... Tapi, kau tahu itu percuma sekarang. Kini kau hanya serupa handuk basah, yang lupa dijemur pemiliknya setelah digunakan. Nanti kau akan membusuk, dan terus saja kau berkata, “aku berada di jalan yang benar, dan kau, segeralah betobat.”

Memang, muramnya bintang yang kita lihat bersama kadang mengobati rasa kesalku padamu hei plin-plan. Kau selalu tiba-tiba menjadi cerdas jika pandangan kita sama-sama mengarah ke atas, “kau tahu, sekian bintang-bintang itu seperti indeks pada buku yang kita pernah rencanakan dahulu. Ia ada disana, disini, kadang bertumpuk, tapi sering menyisakan langit yang lengang. Mirip, kita yang atur letaknya. Mana yang kita anggap penting, mana yang tidak.”

Dan aku akan jawab, “jadi kau pikir bintang-bintang itu boneka? Yang bisa kau tulis dan hapus, letakkan dan buang seenakmu? Haha ayolah, jangan bercanda.”

“Ya begitulah, awalnya aku juga tak percaya, tapi, bagaimana mungkin kau tahu itu hal yang tidak mungkin?”

“Aku tidak tahu. Aku hanya menolak untuk tahu, sekalipun itu benar. Aku pikir, ini untuk diriku sendiri, dan aku tidak perlu bijaksana pada diriku sendiri.” Aku melepaskan suaraku, dan ia menghujamkan matanya padaku.

“Cukup, aku tak kuat mendengarmu.”

“Iya,” dalam hati aku menjawab.

Jalan pulang setelah perbincangan itu rasanya seperti menjauh. Kakiku seperti linu, pegal. Kami putra air mata. Aku masih yakin itu. Sama seperti aku yakin kalau jalanan ini juga makin memanjang. Aku renta, aku batu, aku lemas, aku keras.

“pilihan resolusi bagi kita memang hanya ada 2, terus berteman dengan sepi atau hiruplah sesak. Kau pilih bergolak maka kita teruskan berjalan, kau akan menemukan sepi bersamaku. Kau hirup sesak, ikutlah banyak orang itu, Cuma mungkin mereka tidak merasa.” Akhirnya kuberanikan berkata demikian padamu.

“aku tak ingin menyudahi, sungguh, sumpah. Tapi kau melewati batas usiamu, kau melampaui batas kedewasaan seorang pejalan kaki. Kau tidak mungkin bisa sendirian. Percayalah.”

Dadaku makin sesak, “kau lebih mirip pecundang besar ketimbang semua orang.”

“sudahlah, … “ selalu tak pernah kau selesaikan ucapanmu.

Lalu ketika jalanan ini belum habis kau memilih berhenti, kau berbalik, seolah kakimu yang kukuh itu tak mampu meraih langkah lagi. Padahal aku tahu pasti dahulu kau jauh lebih kuat dari yang aku lihat sekarang.

Punggungmu makin menjauh, kecil dan terus mengecil. Aku balikkan badanku, aku teruskan berjalan… tidak, aku berlari, agar saat berbalik kau tidak sanggup melihatku. Mungkin, ini kata mungkin pertama yang pasti aku katakan, kita tidak lebih dari aura waktu yang terpisah ruang. Karena pisau kegelisahan kita tidak cukup tajam untuk merobeknya.

Sampai di akhir jalan pun aku harus menerima pleidoi keterpurukanmu. Ini aku beri air mataku sebagai gantinya. Air mata yang deras meluncur karena ketidakmampuan untuk memisahkan ilmu pengetahuan, kemanusiaan dan kekuasaan.