Tampilkan postingan dengan label Ulasan Buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ulasan Buku. Tampilkan semua postingan
Mengonstruksi Anarki
Tahun 1992, setahun setelah Uni Soviet merayakan ulang tahun ke-74 sekaligus keruntuhannya, yang juga menandai selesainya Perang Dingin, muncul sebuah artikel yang juga menandai ‘berakhirnya’ sebuah episode paradigma di Ilmu Hubungan Internasional. Artikel itu berjudul 'Anarchy is What States Make of It' (selanjutnya AWSMI), atau yang jika diterjemahkan secara luwes berarti ‘Anarki adalah Ciptaan Negara’.
Artikel itu banyak menghajar pandangan-dunia Neorealis yang tersistematisasi dalam buku Kenneth Waltz, 'Theory of International Politics' (TIP). Secara singkat, Neorealis percaya bahwa struktur internasional menggerakkan negara-negara dalam bertindak. Struktur internasional ini menetapkan apa saja yang harus dan apa yang tak boleh dilakukan oleh negara sebagai unit-unit yang menjadi bagian dari sistem internasional.
Satu kalimat yang mungkin bisa merangkum kepercayaan Neorealis, seperti diungkapkan Waltz ialah, “Struktur mendefinisikan pengaturan, atau tata tindak-tanduk dari bagian-bagian sistem.”
Perlawanan pada Wabah: Perlawanan pada Penjajah
(Aku tulis ‘surat’ ini di tahun itu)*
untuk Tarrou:
hei Sahabat, lihatlah laut itu yang kita selami saat petang itu.
-Rieux-
Oran, dalam Minotaur[i] digambarkan dengan buram, maklum ia baru pulang menjelajah kota-kota di dataran Eropa. Ada tembok batu yang menjalar memanjang di sepanjang perbatasan. Pelabuhan yang sepi, dengan beberapa kapal yang terlanjur merapat. Pos-pos penjagaan diperketat: dua orang bergantian mengawasi selama 12 jam penuh, kemudian diganti dua orang lain 12 jam berikutnya. Begitu seterusnya.
Di dalam kota, trem-trem menyemburkan bau busuk. Orang-orang berlarian disamping dan belakang, mencoba menjangkau lajunya. Jika sempat mendekat, mereka melemparkan bunga. Nahasnya, hanya trem itulah sisa masa lalu, tidak ada mobil lalu-lalang, juga tidak ada hewan peliharaan. Di jalanan bahkan gang sempit.
Angka-angka yang dikeluarkan pemerintah kota menunjukkan kepedihan. Berbulan setelah meluas, keluarga yang ditinggalkan makin meluas. Utara, selatan, barat, dan timur kota, rata. Menggunakan oven tua raksasa, pembakaran mayat mulai dilakukan sejak tanah pekuburan tidak mampu lagi menampung mayat yang tiap harinya bertambah.
Sejak sampar menyerang, kota memang ditutup, sedikit yang datang atau keluar. Yang datang hanya bantuan logistik dari udara, dan kematian. Sedangkan yang keluar hanya kabar, telegram, dan kematian.
Sedangkan laut yang pernah kita selami itu -setelah sebelumnya kita datangi seorang pasien yang loteng rumah sempat kita pakai untuk meresmikan persahabatan kita- tetap sama. Tidak ada yang berubah. Mungkin hanya ombaknya, yang tampak bertambah kuat.
Tadi aku bertemu Rambert, wartawan dari Perancis itu. Beberapa bulan ia mempertahankan kegigihan hatinya untuk keluar dari kota ini. Berkat bantuan Cottard yang memperkenalkannya dengan dua orang keturunan Spanyol, ia nyaris berhasil menyelinap ke luar kota. Lalu di suatu malam saat kau berinisiatif untuk membentuk tim sukarelawan medis demi membantu dokter sepertiku, ia berdamai pada dirinya sendiri. Ia ‘memilih’ untuk jadi warga kota Oran, sepertiku, sepertimu, dan seperti Cottard juga.
Nampaknya ada satu orang lagi yang harus tampil disini, Pastur Paneloux. Aku ingat kata-katanya, mengenai cinta Ilahi yang sukar, yang dapat berupa kehidupan yang sejahtera, juga sampar ini. Tentu saja aku sangsi, secara ilmiahpun itu tidak memadai. Seperti munculnya ribuan tikus yang mati di jalanan, datang menjemput wabah, lalu mengetok pintu-pintu rumah, dan pintu manapun.
Ketiga orang diatas, setelah sampar selesai, hanya Cottard yang mati. Ia mendadak gila![ii] Menembaki orang-orang dan polisi. Bahkan anjing yang tidak sengaja terlihat dari kaca ruangan apartemennya. Bukankah kepahlawanan seperti ujarmu, selalu hampir saja diraih? Dan Cottard belumlah pantas jika disebut antagonis dalam cerita yang baru saja berlalu ini.
Santoisasi terus berlangsung. Wabah makin kokoh menduduki kota, serupa penjajahan, yang merampas hak milik kita atas tanah, rumah-rumah, atas harta-benda, dan sialnya atas hak untuk hidup kita sendiri. Meskipun belum ada yang memilih untuk bunuh diri, namun mata penduduk jelas menyiratkan kesuraman yang teramat susah dipahami. Tapi pastur itu masih saja mengatakan bahwa itu cinta Ilahi. Sungguh, dengan segala kerendahan hati dan hormat, pandangan dunia yang ilmiah akan mementahkannya.
Sebelum ini, kita hanya percaya pada renyah dan romantisnya hidup. Ada sedih, ada riang. Ada kegagalan, ada keberhasilan. Ada pedih, dan tentu saja ada harapan. Tapi sesekali kita juga harus mafhum, bahwa harapan bisa saja terlepas seutuhnya -serta bahwa itu semua cuma bualan-. Porak-porandanya struktur biner tersebut menjadi bukti sahih bahwa wabah yang berkepanjangan hanya meninggalkan satu pesan: kebingungan.
Ya, waktu istriku pergi berobat ke gunung, sebulan, dua bulan, sampai di masa-masa akhir perang dengan wabah ini, aku tak pernah menyangka kalau aku bahkan sejenak saja pernah merindukannya. Nyatanya ia meninggal terlebih dahulu di sana. Seperti Rambert yang bingung saat mengalami puncak kerinduan pada perempuannya di Perancis, lantas bergumam: jika nanti bertemu, siapakah yang asing, dia yang datang atau dia yang menunggu?
“Bukankah hidup dalam situasi ‘seperti ini’ hanyalah membutuhkan pengetahuan dan kenangan?”[iii]
Aku ulangi, kaum terjajah wabah seperti kita dan warga kota tidaklah terlalu buruk jika dibandingkan saat pastur Paneloux -dalam khotbahnya yang ramai- mengatakan, “wabah ini pantas diberikan pada kita,”[iv] bagaimana mungkin?
Aku jelas mengingatmu, yang memberikan segenap daya-upaya untuk menghambat gerak wabah. Saat kita sudah sama-sama lelah di bulan Desember, tiba-tiba pastur meninggal. Ia juga terjangkit wabah. Padahal sebelumnya, ia sempat berkhotbah lagi, meski tidak seramai yang pertama.
Pastur menyatakan dengan terang, bahwa dialog antar dirinya dengan seorang dokter -aku- musti dilaksanakan demi mencari jalan keluar bagaimana wabah ini harus dihadapi.[v] Oh, begitupun kau jelas mencatat ternyata kasih Tuhan saja tak cukup. Perlawanan harus dihadapi dari kenyataan. Demikian juga dengan ketidakmemadaian serum yang baru saja ditemukan.
Aura ‘kepahlawanan’ yang memancar dari gerakmu, membuatku semakin merasa lelah. Aku menyadarinya saat kau jatuh dan menunjukkan dua gejala sekaligus dari wabah ini.[vi] Aku dan ibuku yang bergantian menjagamu, melihat kau bertahan dalam diam menghadapi sakit di tubuhmu sejak malam sampai siang. Tiba-tiba aku ingat segala jenis percobaan dan upayaku berkeliling serta mendiagnosis wabah ini. Dan itu sungguh-sungguh membuatku lelah.
Apa yang kita lakukan tak pernah memberikan hasil, korban terus berjatuhan. Grafik dalam statistik terus saja mencatat kenaikan korban jiwa. Siapapun! Meski telah memakai pelindung yang diberikan oleh pemerintah kota. Meski telah memakai suntikan yang baru aku pesan dari pusat kesehatan di luar kota. Meski telah menyimpan kegelisahannya sendiri. Meski…
Kaupun demikian, yang memulai pertama kali membentuk sukarelawan penanggulangan korban wabah…
Setidaknya saat kau kalah dalam pertempuran tersebut, kehilangan nyawa, aku membuktikan sendiri bahwa tidak ada orang suci di kota-yang-terkena-wabah. Tentu saja juga tidak ada pahlawan. Tapi setidaknya aku juga membuktikan kata-katamu, yang membuat aku harus menulis surat ini untuk dibaca warga kota: kalaupun kita harus bertempur, aku akan berdiri di samping korban, yang artinya aku tidak akan pernah mendukung wabah.[vii] Dan bagaimanapun, kau adalah salah satu yang bertahan paling akhir, walau tak pernah sampai 25 Januari.[viii]
Catatan Kecil:
* Sebuah upaya untuk meresensi novel Sampar, ditulis oleh Albert Camus, diterjemahkan oleh Nh. Dini.
[i] Albert Camus dalam salah satu esainya, Minotaur, (kumpulan esai Summer) menerangkan dengan gamblang Kota Oran yang sedang berada di persimpangan hasrat. Termasuk segala pernak-pernik, aktualitas-semu, dan nafas kota yang sedang terengah-engah. Seperti yang ditunjukkan lewat deskripsi mendetail mengenai bagaimana sebagian warga kotanya begitu menggemari dansa, sekaligus tersiksa denga nilai-nilai ‘estetis’ di yang mengitari aktivitas tersebut. Saat para pertandingan tinju bawah-tanah ternyata tidak lagi menjadi pertarungan dua orang petinju, melainkan menjadi medan paripurna bagi hasrat-hasrat yang tidak pernah tuntas dipertontonkan di permukaan-tanah. Lebih-lebih, di awal esai tersebut Camus mengaku kota-kota di Eropa tidak semenarik Oran.
[ii] Kejadian yang menjadi poin penting bagi sisi-gelap perlawanan terhadap wabah: saat wabah selesai, Cottard kehilangan pekerjaannya yaitu menyelundupkan warga yang ingin lari dari kota dan memperdagangkan barang-barang dari luar dengan harga tinggi di dalam kota.
[iii] Kata-kata ini disimpulkan oleh Rieux ketika selesai bercakap dan membaca catatan Tarrou.
[iv] Khotbah Pastur Paneloux yang pertama, di awal-awal wabah sampar menjangkit Oran.
[v] Khotbah Pastur Paneloux kedua, wabah mencapai puncaknya.
[vi] Pada umumnya para korban wabah Sampar, seperti yang ditulis Camus hanya menderita satu gejala, sampar paru-paru atau bengkak di sekujur tubuh.
[vii] Tarrou, dalam catatan dan dalam suatu pembicaraan dengan Rieux.
[viii] Tanggal itulah pemerintah kota menyatakan meredanya wabah Sampar. Dimana listrik mulai dinyalakan dengan semestinya, perbatasan kota mulai dibuka. Kereta dan kapal laut mulai keluar-masuk. Semuanya ‘mengembalikan Oran seperti semula’.
Cerita Cinta Manusia;
: Pertaruhan di Tengah-Tengah Realitas Destruktif Pasca-Psikonalisa
Tinjauan atas Buku:
Judul : Cinta dan Peradaban (Judul asli Eros and Civilization)
Penulis : Herbert Marcuse
Penerjemah : Imam Baehaqie
Penerbit : Pustaka Pelajar
Tahun terbit : 2004 (Cetakan asli 1970)
Spesifikasi : xxxiii + 357 Halaman (11 Bab dan Epilog)
Diantara sedikit literatur yang pernah saya baca, mungkin inilah teks kedua yang paling menarik perhatian saya (setelah Manifesto of Communist Party Karl Marx, 1888). Ketertarikan saya pertama kali adalah saat membaca judulnya, Cinta dan Peradaban, seolah memancarkan tema yang ‘sangat penting’. Sebelum membaca isinya, saya membayangkan akan membaca cerita ‘cinta-cintaan’ dengan landasan kritis. Karena seperti yang kita sudah tahu, Herbert Marcuse sendiri adalah salah satu pendiri dari Mazhab kritis Frankfurt. Wah sungguh unik tentunya.
Buku ini dibuka dengan bab pengantar yang mengagetkan saya, karena jika kebanyakan buku biasanya hanya ada kata ‘Pengantar’ atau ‘Pendahuluan’, namun di buku ini ada tambahan kata Politis, sehingga menjadi ‘Pengantar Politis’. Muatan politis yang disadari sejak awal oleh Marcuse memang sejalan dengan kisahnya sebagai salah satu intelektual yang mendorong new-left movement pasca-Perang Dunia II. Salah satu gerakan politis yang melibatkan kaum-muda transnasional paling tersohor sampai sekarang. Gerakan yang sampai sekarang mungkin tidak muncul lagi, karena kapitalisme-liberal sudah menang. ‘The End of History…and The Last Man’ Ujar Fukuyama.
Prinsip Realitas dan Masyarakat Barbarian
Satu konsepsi yang bisa dikatakan melatari tesis Marcuse mengenai cinta dan peradaban adalah apa yang dia sebut sebagai ‘prinsip realitas’. Sejauh yang saya bisa katakan dari pembacaan saya atas buku ini, prinsip realitas adalah semacam pengembangan terjauh kemanusiaan yang bisa dijangkau menurut kemampuan manusia sendiri. Kombinasi dari individualisasi dan sosialisasi. Kaitan dan ikatan yang harmonis antara eksternalisasi dari nilai-nilai biologis serta internalisasi nilai-nilai sosial.
Kalau boleh saya sederhanakan. Jika ada semacam prinsip mengenai bagaimana kita akan hidup di dunia ini, dengan sekuat tenaga untuk memperbesar kesempatan hidup dengan menghadapi tantangan-tantangannya, maka itulah prinsip realitas. Namun sebelum sampai sana Marcuse mengingatkan kita bahwa, “Gagasan tentang Prinsip Realitas ini didasarkan pada asumsi bahwa prasyarat material (teknis) bagi pengembangan Prinsip Realitas telah tersedia ataupun dapat disediakan dalam masyarakat maju dewasa ini.” Syarat material ini beragam dan sebagian besar diantaranya benar-benar material, seperti tentu saja kemakmuran dan hal-hal yang kasat mata lainnya. Sebagian kecil lagi lebih intangible karena merupakan sebuah prakondisi macam kesadaran, kebahagiaan, dll.
Namun apa yang terjadi? Kita semua telah banyak melihat, mendengar dan merasakan bahwa dunia yang bebas dan kemajuan perangkat teknologi malah memutarbalikkan kemanusiaan hingga ke titik nadir. Marcuse mencontohkan dengan berderet segala macam kamp konsentrasi, pembunuhan massal, perang dunia, dan bom atom yang kemudian disingkat sebagai ‘kelahiran kembali barbarisme’. Dan sesaat setelah itu, Marcuse melanjutkan, “Dan penaklukan serta penghancuran manusia oleh manusia lain yang paing efektif, ironisnya, justru terjadi di puncak peradaban manusia, ketika capaian teknologi dan intelektual manusia nampaknya telah memungkinkan bagi pembangunan dunia yang benar-benar bebas.”
Apa yang menyebabkan serangkaian hal tersebut terjadi? Dengan tegas Freud sejak dahulu mengatakan bahwa sejarah manusia adalah sejarah penindasan manusia. Kebudayaan merepresi eksistensi sosial dan biologis manusia, bagian manusiawi dan instingtifnya. Memang merepresi aspek-aspek tersebut maka langkah peradaban akan tetap dapat bergerak, bertahan. Insting manusia jika dibiarkan sebebasnya maka akan sangat berpotensi untuk menghancurkan semuanya. Karena insting tersebut mempunyai tuntutan yang tidak pernah cukup sebagai tujuan dirinya sendiri, setiap waktu. Oleh karena itu maka kebudayaan layak untuk merepresi serangkaian insting tersebut, pada tingkatan tertentu, atau menghalang-halanginya untuk mencapai kepuasan yang tidak pernah habis. Menanggalkan manusia dari kebinatangannya. Inilah yang sejak dahulu Freud katakan sebagai peralihan dari prinsip kesenangan menuju prinsip realitas, pembelahan dua dimensi kehidupan manusia, yang sebagian besar membedakan antara kesadaran dengan ketidaksadaran.
Pengingkaran (represi dua ambivalensi manusiawi) ini kemudian berhadapan dengan kontradiksi internal di dalam diri individu-individu. Kebudayaan tidak pernah bisa membuat prinsip realitas menjadi lengkap dan utuh dan tidak bisa mematikan prinsip kesenangan seluruhnya. Prinsip kesenangan kemudian mengendalikan alam tak sadar manusia, yang otomatis sedikit demi sedikit mempengaruhi realitas di sekelilingnya.
Contoh kasar, taruhlah anda sejak awal benci dengan seorang pemimpin entah karena apapun (suatu prinsip kesenangan), namun anda menahan untuk melakukan tindakan karena aspek kebudayaan karena sistem demokrasi (aspek kebudayaan) merepresi kebencian anda serta menanggalkannya dengan adanya pemilihan umum setiap lima tahun. Namun di tingkatan tertentu, saat beberapa kali pemilu ternyata keadaan di sekitar anda masih sama saja, kebencian yang tertanan hingga dunia bawah sadar anda mau tidak mau akan muncul. Bentuk-bentuk seperti diskusi, demonstrasi sampai revolusi anti-pemerintahan adalah salah satu bentuk munculnya kembali sisi yang telah lama terpendam.
Marcuse dalam buku ini menyebutnya sebagai ‘kembalinya yang direpresi’. Kembalinya yang direpresi ini menghasilkan sejarah yang ditabukan dan bersifat bawah tanah. Oleh karena itu kemudian, dengan menyandarkan pada aspek tersebut, psikoanalisis individunya Freud juga berbentuk psikologi sosial. Penindasan adalah suatu fenomena historis. Pengingkaran yang efektif seperti dicontohkan sebelumnya, bukanlah instrumen alamiah namun digunakan oleh manusia itu sendiri, dalam selang waktu tertentu.
Kaitan Ontologisnya, Kemudian…
Sejak awal, Freud berusaha untuk menunjukkan bahwa Eros telah menciptakan kebudayaan dalam perjuangannya untuk melawan insting kematian. Namun yang terjadi sebaliknya. Kebudayaan yang mapan malah melahirkan destruktifitas, menyatakan kehancuran yang diarahkan pada pemberontakan terhadap satu hal, yaitu represi. Pemberontakan dan kehancuran ini selain menghancurkan, juga menandakan pentingnya sifat historis, batas validitas, dan nilai dari prinsip realitas.
Rasionalisme Cartesian mengawali masuknya peradaban manusia pada rasionalitas modern-ilmiah. Rasionalitas yang menuntun subyek agar mampu menjalankan transformasi rasional atas lingkungan dan manusia lainnya. Transformasi ini kemudian dilakukan paling banyak pada kemampuan individu yang lebih rendah: kemampuan panca indera dan selera. Terlihat bagaimana ketetapan represif masih terjaga.
Rasionalitas terus berjalan. Hegel kemudian mengukuhkan petualangan intelektual rasionalitas pada titik terbesarnya yaitu dengan menunjukkan validitas kategori dan prinsip pengaturan dunia yang absolut. Dan masih tetap sama saja, kesimpulannya adalah kepenuhan dan orisinalitas manusia sama dengan gagasan dan pengetahuan yang absolut. Ini pula yang menghasilkan pembenaran alienasi dan secara ambivalen ditolak dalam akal-budi universal. Perbedaannya hanya pada konkretisasi landasan historis filsafat dimana bangunan besar akal-budi dibangun. Dalam konteks perspektif ini, dunia mengalami titik nadir perjuangan Eros.
Lalu muncul lah Nietzsche yang mendobrak tradisi ontologis tersebut. Dengan kehendak-untuk-berkuasa dia membalik terma represif pada masa itu yang menjadikan represi dan pemiskinan sebagai kekuatan yang berkuasa serta agresif untuk mengatur eksistensi manusia. Digaris ini Nietzsche membuka berbagai kekeliruan pemikiran yang dibangun oleh filsafat dan moralitas Barat sejak Descartes, yaitu transformasi fakta empiris menjadi esensi dan kondisi historis menjadi asumsi metafisis. Kelemahan dan kesedihan manusia dipahat menjadi kejahatan dan rasa bersalah yang transenden, pemberontakan menjadi dosa asal, dan seterusnya. Nietzsche melampaui seluruh filsafat rasionalitas karena dia berbicara ‘mewakili’ prinsip realitas yang secara ontologis menentang prinsip peradaban Barat. Dalam barisan inilah kita juga menemukan Freud, metapsikoanalisisnya yang menutupi segala spekulasi metafisis dengan rasionalitas Eros. Namun itu hanya sesaat saja.
Peradaban Manusia diantara Pertentangan Psikoanalisis
Psikoanalisis sendiri, secara sinkronis maupun diakronis mengalami pertentangan di dalam tubuhnya sendiri ketika menganalisis kontradiksi manusia tersebut. Pertentangan ini memuncak ketika era liberal digadang-gadang akan membebaskan manusia ambruk, munculnya Perang Dunia, kembalinya yang otoritarian, serta runtuhnya upaya-upaya yang menangkal kecenderungan tersebut. Psikoanalisis kemudian meradikalkan cara kritik (utamanya kritik psikologis) terhadap sebagian capaian modern yaitu pada individu.
Dekade terus berganti, Eropa Timur dan Tengah menjalani masa-masa revolusionernya. Psikoanalisis-awal, yang memang sejak semula tidak berniat untuk ‘merubah’ mendapat banyak kecaman. Bahkan psikonalisis-awal dianggap hanya sebagai reaksi singkat. Freudian terkesan menganggap cita-cita sosialisme humanitarian tidak dapat dicapai dengan manusiawi. Akhirnya momentum tersebut muncul. Menurut Marcuse, Psikoanalisis terpecah menjadi sayap kiri dan kanan.
Sayap kiri mengonsentrasikan wilayah kajiannya pada hubungan antara struktur sosial dan struktur instingtif, yang nampaknya bersifat sirkular. Dimana represi seksual (instingtif) didorong dan dieksploitasi oleh kepentingan dominasi (struktur sosial). Di waktu lainnya, kepentingan-kepentingan dominasi dan eksploitasi didoroang dan diproduksi lagi oleh represi sosial. Sedangkan implikasi destruktif represi seksual sebagai dinamika historis tidak ditinjau secara kritis oleh sayap kiri ini. Serangkaian tesis tersebut akhirnya menghasilkan pembebasan seksual sebagai solusi bagi penyakit individu dan sosial. Akibatnya, inspirasi sosiologis yang menjadi poin penting menjadi tidak terkaji secara luas, malah memperluas kembali primitivisme.
Sisi seberangnya, sayap kanan mendapatkan juru bicara yaitu Carl G. Jung. Secara garis besar sayap ini membicarakan tentang aliran-aliran pemikiran interpersonal dan kultural. Yang banyak menjadi pandangan umum psikoanalisis dewasa ini. Lalu dengan mengutarakan tesis tersebut, sayap ini perlahan merubah teori psikoanalitik menjadi serupa ideologi. Manusia dicerabut dari personalitas keutuhannya. Capaian-capaian peradaban Barat yang selalu saja mengandaikan serta melestarikan ketidakbebasan dan penindasan juga menjadi solusi untuk menekan struktur instingtif manusia (mengambil cara Freud melihat dinamika historis peradaban sebagai sebuah tujuan!). Hal inilah yang kemudian menjadikan psikoanalisis-awal dan kedua aliran neo-revisionisnya menjadi bertentangan. Pertentangan antara filsafat psikoanalisis dan praktek terapis psikoanalisis. Ontologi dan metodologinya.
Perjuangan Cinta Manusia, Sebuah Perjuangan Tanpa-Akhir
Ketakutan saya saat meresensi atau mengulas sebuah literatur adalah ketidakmampuan saya untuk: merangkum seluruh poin penting, menghindarkan distorsi substantif yang terlalu besar (karena untuk sepenuhnya menghindarkan distorsi rasanya ya kok tidak mungkin), dan tidak terlalu menyederhanakan atau mereduksinya pada tingkatan tertentu. Kesemuanya bermuara pada kesalahpahaman terhadap buku ini. Oleh karena itu di paragraf berikutnya saya akan mencoba mengaitkannya dengan subyektifitas saya atas pecahan-pecahan esensi buku ini.
Marcuse dengan gamblang menjelaskan bahwa keseluruhan isi buku ini merupakan semacam ‘rekam jejak’ perjuangan manusia demi Cinta melawan kematian. Dan peradabanlah tempat perjuangan tersebut. Cinta disini (dan sudah selayaknya untuk selanjutnya) kemudian tidak dimungkinkan untuk dipahami sebagai cinta muda-mudi yang dangkal, remeh-temeh, dan personal seperti yang mungkin kita sering jalani beberapa saat belakangan. Cinta menurut Marcuse adalah oposisi bagi segala sesuatu yang bersifat destruktif, atau lebih jauh lagi berlawanan dengan peradaban yang mematikan. Namun bukan kematian itu sendiri. Peradaban yang mematikan mengendalikan banyak sekali perangkat untuk terus memperpanjang umur manusia. Manusia berjuang untuk mendapatkannya. Manusia berjuang demi Cinta untuk memperpanjang jalan menuju kematian. Dengan terus membangun harmonisasi antara insting dan alam.
Perjuangan ini secara alamiah menuntut kita sebagai kaum muda untuk berada di garis depan. Baru kaum intelektual. Sistem yang berkuasa sekarang terus memelihara struktur yang destruktif bagi kemanusiaan. Pengorganisasian sistem tersebut harus dilawan dengan pengorganisasian tandingan. Kaum-muda sejatinya harus menyadari bahwa ini adalah pertaruhan hidup, bernafaskan perjuangan demi eros dan merupakan perjuangan politis. Segala macam diskusi, demonstrasi, dan bahkan revolusi tidak akan pernah berhenti selama sistem tersebut tetap berkuasa. Karena kembali lagi, perjuangan ini adalah perjuangan biologis bermuatan politis. Karena hidup kitalah (kaum-muda) yang dipertaruhkan. Dan kalaupun kita masih bisa hidup, maka kesehatan mental dan kapasitas kita sebagai individu yang utuh yang akan dicerabut dan dibunuh. Akhir kata, sadarlah kaum-muda! []
Kritik (dari) Masyarakat Deliberatif
Tinjauan Terhadap Buku-Buku FB Hardiman:
Menuju Masyarakat Komunikatif
Kanisius
288 Halaman
Demokrasi Delibratif
Kanisius
246 Halaman
Kritik Ideologi
Kanisius
236 Halaman
Perkembangan manusia, utamanya di ranah pemikiran filsafat dan ilmu pengetahuan telah berkembang sedemikian pesatnya. Hal ini dapat ditelisik ketika orde Barat mengumumkan diri mereka masuk ke dalam masa “modern”, yang ditandai dengan bergeraknya akal-budi manusia dari yang semula berpusat-pada-gereja menjadi berpusat-pada-manusia. Pengaruh agama (Kristen) mulai memudar perlahan, singkatnya, pandangan agama menjadi semakin tidak dipercaya.
Renaisans lewat Descartes hingga memuncak pada kaum positivis di masa pencerahan, paradigma pemikiran filosofis yang bertumbuhkembang seolah melepaskan manusia dari kepentingannya. Ilmu pengetahuan menjadi ada di-luar manusia. Bebas dari subyektifitas. Ini diakibatkan salah satunya, oleh integrasi metode-metode ilmu alam yang masuk ke ilmu sosial. Sistem yang kemudian terbentuk dari pemikiran-pemikiran tersebut malah 'menindas ' manusia dari kemanusiaannya. Ini terjadi karena penerus kaum positivis (antara lain neopositivisme lingkaran Wina, lingkungan linguistik Oxford, kaum determinisme ekonomi Marx, dst. juga masuk ke dalamnya) mencoba menjadi sistem filsafat yang universal. Akhirnya, pola-pola 'kebenaran' tersebut diyakini menjadi bebas-nilai, seperti hukum Tuhan.
Tentu saja, ada pihak-pihak yang menolak dengan keras beragam percobaan tersebut. Salah satu yang paling termasyhur adalah barisan pemikir kelahiran Jerman yang muncul dari Institut Penelitian Sosial di Frankfurt. Pemikiran-pemikiran mereka seringkali disebut juga sebagai Mazhab Frankfurt. Mereka memiliki beberapa proyek sistematis yang secara berkelanjutan dimunculkan.
Kritik-Ideologi
Generasi pertama dari para pemikir ini dimotori oleh Max Horkheimer (selain itu ada Theodor Wisendrund-Adorno, Herbert Marcuse, dll.) yang sekaligus menjabat sebagai direktur penelitian Institut Penelitian Sosial sejak 1930. Mazhab Frankfurt berawal dari sebuah artikel yang sangat panjang dari Max Horkheimer dan Theodor Wisendrund-Adorno berjudul Traditional and Critical Theory. Ditilik dari judulnya, nampak terlihat bahwa kedua orang tersebut berusaha untuk membelah 'teori' menjadi 2, yaitu teori tradisional dan teori kritis.
Teori-teori yang bersifat positivis, atau seluruh teori yang menggunakan metode empiris-analitis oleh mereka dimasukkan ke dalam teori tradisional. Teori ini menurut mereka, mengacu pada proyek penyatuan seluruh ilmu pengetahuan di bawah satu payung, yaitu positivisme itu sendiri. Mereka melihat adanya selubung ideologis yang dimiliki oleh teori tradisional ini. Teori tradisional secara substantif tidak memberikan kesempatan untuk sebuah perubahan mendasar pada tatanan masyarakat yang dalam berbagai aspek mereka lihat malah menindas. Mereka juga memandang, teori ini melumpuhkan kritik-kritik radikal seperti yang telah dibangun banyak filsuf sebelumnya. Singkatnya, hal inilah yang mereka anggap sebagai, 'pelestarian status-quo masyarakat yang menindas tanpa keinginan sedikitpun untuk merubahnya.
Sedangkan teori kritis, adalah sekumpulan teori-teori yang menganut paradigma kritik dengan metode dialektikaterbuka, berbeda dengan dialektika-tertutup yang dikembangkan oleh Marx dan Hegel sebelumnya. Dialektika-terbuka ini mecari adanya kontradiksi pada kenyataan konkret, sehingga memungkinkan adanya perubahan mendasar pada sistem kemasyarakatan yang dianggap menindas. Oleh sebab itu, Teori kritis bisa dikatakan tidak mencoba untuk memisahkan diri dari kepentingan manusia, malah mencoba untuk mengakomodirnya (praksis). Selain itu teori kritis secara otomatis menjadi praksis karena sifatnya yang tidak melepaskan diri dari konteks sejarah tertentu, berbeda dengan teori-teori tradisional yang 'bisa' lepas dari konteks sejarah apapun karena dianggap bisa digunakan kapanpun, bagaimanapun, dan oleh siapapun (bebas-nilai). Sejak awal dikumandangkannya, teori kritis memang menganggap dirinya tidaklah bebas nilai namun memihak, dan karena memihak, maka teori kritis dapat dikatakan bertujuan, yaitu pembebasan manusia dari perbudakan dan pemulihan kedudukan manusia sebagai subyek yang mengelola sendiri kenyataan sosialnya.
Seringkali, karena kritik mereka atas kondisi masyarakat yang menindas pada saat itu, Mazhab Frankfurt dianggap sebagai kaum neo-Marxis. Anggapan ini benar meski tidak seluruhnya, sebagian dari generasi pertama teori kritis ini banyak menggunakan pemikiran Marx tentang masyarakat namun dikontekstualisasikan dengan spektrum berpikir mereka yang juga menentang kajian ilmiah penafsiran Marx yang ekonomi positivistik, dan pada titik inilah mereka juga sering disebut 'Marxis yang murtad'.
Kebuntuan ini kemudian baru mendapat pemecahan setelah munculnya Jurgen Habermas, yang seringkali disebut sebagai generasi kedua teori kritis dengan paradigma komunikasinya. Selain itu Habermas juga mengkritik paradigma pemikiran yang ada di masanya, sama seperti para pendahulunya. Habermas membagi 3 arus utama pemikiran yang berkembang di masanya itu, yaitu ilmu empiris-analitis (sains), historis-hermeneutis (ilmu sosial), dan yang dia anut yaitu ilmu kritis.
Kepentingan ketiga aliran ilmu tersebut berbeda secara mendasar. Ilmu empiris-analitis memiliki kepentingan teknis, ilmu historis-hermeneutis memiliki kepentingan praktis, dan ilmu kritis memiliki kepentingan emansipatoris. Habermas menganalisis bahwa kepentingan yang dimiliki oleh ilmu empiris-analitis dan historis-hermeneutis tidak mengijinkan segenap anggota masyarakat beremansipasi, karena mendasarkan pada rasio yang berkehendak untuk membebaskan diri dari kendala-kendala alamiah dan interaksi sosial, itu akibat dari 'penyelewengan' mereka terhadap kebutuhan intersubyektif-emansipatoris yang terdapat pada ilmu-ilmu kritis.
Masyarakat Komunikatif
Selain menelanjangi selubung ideologis teori tradisional lewat teori kritis, sumbangsih Mazhab Franfurt juga terdapat pada kritik mereka terhadap rasio masyarakat pos-industri. Rasio masyarakat pos-industri menurut mereka, tidak lebih sebagai mitos yang ada pada masa-masa sebelum pencerahan muncul. Pengelolaan manusia yang didasarkan pada kalkulasi ilmu pengetahuan dengan masif membuat manusia seperti robot yang hanya memiliki satu dimensi dalam hidupnya. Terma satu dimensi ini muncul setelah Marcuse menganalisis kondisi masyarakat pascapencerahan yang malah memunculkan perbudakan diantara manusia.
Kemudian, perbudakan ini tidak dapat dipecahkan lewat pemikiran praksis generasi pertama karena mereka masih menganut praksis kerja. Artinya, ketika rasio kritis seperti yang dimunculkan oleh generasi pertama teori kritis ini mengalami pergerakan, maka harus dikonkretkan lewat kerja. Sedangkan kerja, seperti yang telah terjadi sebelumnya, akan menimbulkan perbudakan, dan begitulah seterusnya. Tidak berhenti. Ini yang kemudian membuat generasi pertama teori kritis menjadi pesimistis dan menemui jalan buntu.
Habermas menganalisis bahwa kondisi masyarakat pos-industri telah kehilangan apa yang disebutnya dengan konsensus bebas dominasi. Karena relasirelasi masyarakat yang terbentuk hanyalah relasi kerja, tanpa relasi komunikatif. Pencapaian konsensus tersebut bisa dicapai dengan prasyarat adanya masyarakat yang cerdas dan berhasil melakukan komunikasi yang memuaskan. Komunikasi ini dikatakan memuaskan apabila para partisipan di dalamnya berhasil memahami maksud lawan bicara dengan berusaha mencapai klaim kesahihan (validity claims). Unsur-unsur klaim tersebut terdapat dalam empat bentuk yaitu, klaim kebenaran (truth claims), klaim ketepatan (rightness claims), klaim autentisitas (sincerity claims), dan kemudian membentuk klaim komprehensibilitas (comprehensibility claims). Sedangkan masyarakat yang mampu mencapai keempat klaim tersebut disebut memiliki 'kompetensi komunikatif'.
Masyarakat yang diidamkan oleh Habermas bukanlah masyarakat yang melakukan revolusi kekerasan untuk mencapai tujuannya, melainkan lewat argumentasi. Argumentasi ini terbagi menjadi 2. Jika ingin mencapai sebuah konsensus rasional, maka digunakanlah diskursus dan jika ingin merefleksikan norma-norma maka digunakanlah kritik, atau tepatnya ujar Habermas, kritik estetis. Kritik yang kedua adalah kritik terapeutis yang singkatnya digunakan untuk menguji pengungkapan-diri para partisipan yang ikut berkomunikasi. Jika kemudian syarat-syarat tersebut digunakan dengan tepat, maka klaim-klaim yang dibutuhkan untuk membentuk masyarakat komunikatif yang mencapai konsensus rasional dapat tercapai.
Tentu saja, perkembangan rasio masyarakat (publik) sangat erat kaitannya dengan politik. Republik secara harfiah saja juga berarti urusan publik (res-publica). Perkembangan negara-negara modern dalam perspektif Habermas, masih kurang radikal ketika berbicara tentang demokrasi. Demokrasi yang dianut masih berbasis 'kerja' bukan komunikasi. Sedangkan seperti yang telah disebut diatas, bahwa emansipasi baru tercapai apabila adanya masyarakat yang benar-benar komunikatif. Sedangkan apabila praktek-praktek demokrasi masih memunculkan adanya represi dan lain sejenisnya, maka Habermas menyebutnya sebagai krisis legitimasi. Krisis ini berada di dunia politik tapi mempengaruhi seluruh aspek kehidupan sosial manusia karena pemerintah mendapat legitimasinya secara tidak benar sehingga sistem sosial seperti mengidap penyakit.
Dunia sosial sendiri dalam pandangan Habermas terbagi menjadi dua paradigma, yaitu dunia-kehidupan dan sistem. Kalau peristiwa-peristiwa sosial dianalisis dari sudut pandang ketergantungannya pada fungsi integrasi sosial maka kita menggunakan paradigma dunia-kehidupan. Sedangkan kalau menganalisis ketergantungan peristiwa sosial pada integrasi sistem, kita menggunakan paradigma sistem. Kedua paradigma tersebut dapat digabungkan untuk menanggulangi demokrasi yang dianut kebanyakan negara modern menjadi sebuah demokrasi radikal atau demokrasi deliberatif.
Demokrasi Deliberatif
Demokrasi deliberatif seperti yang telah ditulis sebelumnya, pada dasarnya merupakan radikalisasi pada demokrasi dengan mengandaikan pada intersubyektifitas para partisipan dalam masyarakat komunikatif. Mencapai demokrasi deliberatif tidak semudah yang dibayangkan, ini dapat dilihat ketika Habermas merumuskan apa yang disebutnya sebagai ruang publik hingga demokrasi proseduralistiknya.
Habermas sebenarnya tidak secara langsung menawarkan demokrasi deliberatif sebagai tujuan akhir dari segala permasalahan sosial dewasa ini. Dia terlebih dahulu menjelaskan teori diskursus sebagai acuan untuk membentuk konsensus rasional, yang mengaitkan antara rasio dan tindakan komunikatif di dalam tubuh masyarakat. Teori diskursus inilah kunci untuk memahami bagaimana paradigma komunikatif bekerja dalam mengatasi kemacetan praksis teori kritis.
Kemudian, dihadirkanlah perihal prosedur-prosedur untuk membentuk sebuah pemahaman perihal hukum di negara demokratis. Selain juga memberikan penjelasan mengenai letak moral di dalam hukum tersebut. Karena seringkali hukum dan moral dibenturkan secara frontal di dalam demokratisasi masyarakat yang plural.
Tentu saja, prosedur hukum tersebut terbentuk di dalam ruang publik yang di dalamnya muncul dialog horisontal antar warganegara. Ruang publik yang terdapat pada dimensi duniakehidupan (lebenswelt) ini berkaitan dengan sistem yang bekerja sekitarnya, yaitu sistem adminitrasi dan pasar. Ruang publik merupakan sarana warganegara untuk menyampaikan aspirasinya secara bebas dan rasional perihal kepentingannya. Aspirasi tersebut kemudian disaring oleh semacam bendungan publik, yaitu semacam pengujian intersubyektif yang otomatis terdapat di dalamnya. Tentu saja elemen kedaulatan rakyat harus ada disini.
Demokrasi deliberatif ini hanya bisa tercapai apabila ruang-ruang publik mendapatkan kedaulatannya secara penuh. Jika ini diingkari, maka demokrasi hanya berada di tataran prosedur (bukan proseduralistik) dan bukan substantif. Sistem-sistem yang mengitari dunia-kehidupan tidak boleh melakukan intervensi sama sekali. Kekuasaan yang dimiliki sistem-sistem harus digunakan untuk menjaga ruang publik agar tetap otonom dan bukan berposisi di bawahnya. Karena jika itu yang terjadi, mustahil muncul masyarakat komunikatif dan demokrasi deliberatif. [Dimuat dalam Newsletter Tegalboto Pos Edisi VII]
Langganan:
Postingan (Atom)