Pergerakan Diskursus Seni Rupa

: Gerakan Seni Rupa Baru dan Taring Padi




Waktu itu masih dekade1970-an dan awal 1980-an, dimana seni-modernisme perlahan mulai dibongkar aspek dogmatiknya. Arus dan gaya baru dalam berkesenian mulai bersuara. Peristiwa ini, lantas dikenal sebagai Gerakan Seni Rupa Baru (GSRB). Sebuah momentum dimana seni rupa Indonesia sekali lagi ramai oleh tingkah polah anak-anak muda.

Suatu hari di penghujung 1974, yang kemudian dikenal di dunia seni rupa sebagai ‘Desember hitam’ muncul nama-nama seperti Nanik Mirna, Harsono, Munni Adhi dalam pameran. Kemudian ditambahi saat Dewan Juri Pameran Besar Seni Lukis mensahkan karya-karya AD Pirous, Abas Alibasyah, Aming Prayitno, dll., untuk ikut berpameran.


Deklarasi kehadiran GSRB mungkin paling kuat terpancar saat Pameran Seni Rupa Baru 75 di TIM Jakarta. Sekelompok seniman macam Harsono, Jim Supangkat, Pandu Sudewo, Ris Purwana, dll. GSRB secara resmi memasukkan dirinya dalam sirkuit seni rupa sekaligus ‘mengobarkan’ perang diskursif dengan generasi seniman rupa yang lebih ‘tua’. Generasi senirupa modernis.

Sebelumnya, seni-modernisme digawangi oleh para pelukis angkatan pasca-Raden Saleh. Mereka ini yang masyhur berhimpun di Persagi (Persatuan Ahli Gambar Indonesia) juga melakukan penolakan nilai-nilai estetik yang dibawa oleh Raden Saleh, mooi-indie. Di kemudian hari lewat S. Soedjojono, mereka keluar dari paradigma berkesenian tersebut dengan menelorkan pernyataan estetis tersendiri, yang terdapat pada satu frasa, yaitu jiwa-tampak.

Terlihat wajar memang manakala kemudian apa yang disebut jiwa-tampak tersebut merupakan puncak artikulasi pelukis-pelukis dalam rentang waktu 1930an hingga 1960an (yang lalu terpenggal di masa bergantinya rejim Soekarno ke Soeharto). Mereka ini yang berusaha terus-menerus mereplikasi realitas.

Dengan mengikuti garis ideologis realitas politik waktu itu, Soekarno-isme, Soedjojono beserta sekian pelukis lainnya termasuk Hendra Gunawan, Affandi, Agus Djaja, dll., secara implisit memaklumatkan bahwa karya-karya mereka adalah refleksi langsung dari kontradiksi kelas dan mencoba menyingkirkan nilai-nilai berkesenian ‘barat’.

Paling tersohor adalah menolak garis tampilan eksotis nusantara, sebagai sikap mereka sebagai anti-kolonialis, berseberangan dengan mooi-indienya Raden Saleh. Atau yang kemudian secara kasar dan agak serampangan diidentifikasi termasuk dalam realisme-sosialis.

Perdebatan antara yang membela dan yang menolak ‘wacana’ GSRB malah membuat gerakan tersebut makin dikenal. Ditambah dengan konstelasi sosial-politik waktu itu yang membikin posmodernisme dan cultural-studies baik sebagai analisis dan praktek masuk ke Indonesia.

Perkembangan berikutnya, terbelahnya ‘arus’ berkesenian, utamanya seni rupa, menjadi dua.

Pertama adalah yang pihak masih keukeuh memegang nilai-nilai modern(isme), dengan berpedoman teguh pada utamanya lukisan dan patung. Atau lebih dalam lagi, masih menganggap bahwa penilaian estetis melulu dihadirkan oleh ‘jiwa tampak’. Pihak ini juga cenderung memiliki pandangan bahwa apa yang disebut sebagai GSRB tidak memiliki dasar yang kokoh atau tidak melihat ada yang benar-benar ‘baru’ dalam GSRB.

Kedua adalah generasi yang lebih muda. Yaitu yang meyakini bahwa apa yang disebut karya seni pada dekade-dekade itu telah beranjak daripada hanya penggunaan lukisan dan patung sebagai medium. Mereka yang berada di arus ini lebih banyak memanfaatkan medium terbaru seperti cetak-saring atau sablon, lebih bergairah dengan banyak melakukan instalasi dan seni performans.

Sejatinya pihak yang berdiri pada garis kedua ini bukan hanya semata-mata mempertanyakan ketertutupan senirupa semata. Mereka ini melakukan eksplorasi lebih lanjut dengan memanfaatkan momentum, mengeksploitasi ruang-ruang, melakukan pencarian berkesenian yang lebih ‘ekstrem’ dengan eksekusi yang tidak biasa.

GSRB juga membongkar masalah-masalah internal kesenirupaan khususnya masalah semangat avant-gardisme dan spesialisasi yang terlanjur diyakini banyak pelukis dan pematung terdahulu. Oleh karenanya, dalam lima jurus gebrakan GSRB, dengan sangat bersemangat mereka-mereka ini bertahan untuk terus kritis dan tajam dalam memandang sejarah seni rupa Indonesia yang diawali oleh Raden Saleh. Mulai periodisasi, perkembangan, beserta kondisinya waktu itu.

Pembacaan tersebut kemudian menjadi pijakan bagi seniman atau kelompok seniman. Yang kemudian mengeksplorasi medium-medium baru sebelum dan atau saat menciptakan karya seni.



*****



Sudah barangtentu akan sangat problematis apabila langsung mendudukkan GSRB, beserta penjelasan dan latar ideologisnya di atas dengan apa yang terjadi kini. Dalam konteks ini Taring Padi.

Apalaig jika menilik catatan Alexander Supartono (Pendahuluan) dan Dolorosa Sinaga (Taring Padi: Bukan Demi Wacana Seni Rupa) dalam buku Taring Padi, bahwa sesungghunya apa yang ingin diledakkan dan dicapai oleh Taring Padi bukanlah semata demi ‘akrobatik estetika.’ Hal yang cukup menandai bahwa memang Taring Padi tidak berdenyut di ranah ini.

Aura Taring Padi sejatinya juga lebih memancar pada aktivitas sosial-politis yang mereka lakukan, bukan pada gebrakan di wilayah ke-seni rupa-an itu sendiri. Beberapa diantaranya bahkan lebih merupakan pemanggilan ingatan akan peristiwa 1998. Namun penting untuk diingat, Taring Padi juga menggunakan medium seni, yang artinya berdenyut di wilayah-wilayah yang mau tidak mau estetis.

Membaca Taring Padi dan kaitannya dengan GSRB bisa melewati dua jalan, yaitu melihat latar belakang politik, menelisik ketersediaan alat produksi, dan kemudian meletakkannya dalam simpul estetis antara keduanya.

Kedua, mendeteksi roh GSRB yang hidup pada Taring Padi. Tentunya pembacaan tersebut tidak lagi berada di wilayah ‘pendahuluan’ melainkan pada wilayah yang lebih tidak kasat mata. Melampaui aktivisme sosial dalam konteks kesenian.

Jalan yang pertama, akan menghadapi konsekuensi adanya perbedaan mendasar antara latar belakang ideologis keduanya. Kita memahami bersama bahwa pada saat GSRB muncul, konstelasi politik masih sangat represif. Konsolidasi kekuatan politik Soeharto sedang mengokoh setelah berhasil menyelesaikan masalah-masalah ekonomi. Sedangkan pada masa Taring Padi muncul (Desember 1998) hingga sekarang (2011), kekuatan politik tidak terlalu terfragmentasi, kalau tidak ingin disebut cair. Daya tawar politis masyarakat sipil sekarang jauh lebih kuat dibanding tahun-tahun dimana GSRB muncul. Kalau boleh ditarik kesimpulan sementara, maka kemunculan Taring Padi sebagai representasi masyarakat sungguh tidak mengherankan.

Jalan yang kedua lebih punya kecenderungan untuk membaca Taring Padi yang diakui atau tidak mendapatkan perhatian dari khalayak, bahkan yang awam kesenian sekalipun. Bagaimanapun, ini juga dilakukan oleh para pegiat seni yang pro GSRB. Apalagi kalau bukan mendudukkan kesenian sejajar dengan hidup sehari-hari masyarakat. Taring Padi, yang bergerak dari akar rumput, rupanya tidak dipandang, atau mungkin ditolak masuk ke perdebatan diskursus seni rupa. Apakah karya-karya Taring Padi tidak cukup bicara dalam ‘pencapaian estetik’ tertentu? Tentu tidak.

Wacana seni modern yang begitu terpenjara dalam kaidah estetik yang dibuatnya dibongkar sedemikian rupa sehingga perlahan tahu diri. Karena jaman beserta perangkat materialnya telah banyak berubah dan bertambah. GSRB sukses dalam hal ini. Buktinya? Taring Padi.

Tentu saja butuh penelitian yang lebih mendalam dan tajam dibandingkan tulisan singkat ini. Karena sejujurnya memang tulisan ini ditujukan untuk memberi sekadar pendahuluan bagi seniman atau peminat seni yang di sisi lain dirinya merupakan orang yang tidak tertutup pada modifikasi/rekonfigurasi diskursus kesenian. Atau kalau dalam diskursus filsafat ilmu pengetahuan disebut pergeseran paradigma (paradigm-shifting)’.

Modifikasi, rekonfigurasi, atau pergeseran ini penting karena kanonisasi yang lazim dalam konteks apapun selalu menghadirkan kebosanan. Dan umumnya anak muda, atau mahasiswa, yang stok energinya jauh lebih segar pasti punya peluang untuk membocorkan kanon yang ada, yang biasanya dikelola oleh generasi yang lebih tua. Atau kalau tidak tertarik, bikin kanon sendiri.

Maka jangan heran kalau hampir seluruh punggawa yang bergelut di GSRB, dan Taring Padi, adalah anak muda dan mahasiswa.[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar