Absurditas; Tentang Kota, Tentang Kita



Jika tubuh adalah sirkuit tempat ingatan-ingatan saling berlarian, maka nalar adalah hanya sebatas ‘yang seolah-olah’. Benjamin, yang pernah sengit berpolemik dengan Adorno soal banyak hal, mencuatkan sebuah teknik bertajuk historiografi fragmentaris. Dalam hal ini, secara singkat, dapat dipahami bahwa historiografi fragmentaris adalah sebentuk pedang yang bisa digunakan untuk menebas semak belukar—Ia menyebutnya ‘tradisi’—agar kita bisa memunguti remah-remah masa lalu yang sebelumnya menjadi bagian inheren dari diri. Tapi kemudian terpenggal dan tertinggal entah dimana(-mana).

Kalau tubuh melakukan hal yang sama berulang kali, mengabaikan haknya untuk beristirahat, seperti Sisipus yang diperkenalkan ulang oleh Camus, maka nalar, dengan kata ganti lain budi atau akal, akan memberontak. Nalar akan melakukan dilematisasi, melakoni kewajibannya. Ia, lalu mengambil jalan memutar demi membela 'manusia' yang hadir sebagai prasyarat adanya tubuh dan nalar.

Dualisasi macam ini memang sangat beresiko, lebih-lebih jika dicangkokkan secara anonim semisal pada kasus Sisipusnya Camus. Akan tetapi dualisasi semacam ini juga tak kelewat asing, oleh karenanya resikonya (pernah) tertanggungkan. Taruhlah Hobbes yang menggambarkan hidupnya Leviathan, seorang anonim lainnya yang dengan serius mengamati keseluruhan manusia, bahkan barangkali, lebih awas dibanding manusia-manusia sendiri.

*****

Mengonstruksi Anarki



Tahun 1992, setahun setelah Uni Soviet merayakan ulang tahun ke-74 sekaligus keruntuhannya, yang juga menandai selesainya Perang Dingin, muncul sebuah artikel yang juga menandai ‘berakhirnya’ sebuah episode paradigma di Ilmu Hubungan Internasional. Artikel itu berjudul 'Anarchy is What States Make of It' (selanjutnya AWSMI), atau yang jika diterjemahkan secara luwes berarti ‘Anarki adalah Ciptaan Negara’.

Artikel itu banyak menghajar pandangan-dunia Neorealis yang tersistematisasi dalam buku Kenneth Waltz, 'Theory of International Politics' (TIP). Secara singkat, Neorealis percaya bahwa struktur internasional menggerakkan negara-negara dalam bertindak. Struktur internasional ini menetapkan apa saja yang harus dan apa yang tak boleh dilakukan oleh negara sebagai unit-unit yang menjadi bagian dari sistem internasional.

Satu kalimat yang mungkin bisa merangkum kepercayaan Neorealis, seperti diungkapkan Waltz ialah, “Struktur mendefinisikan pengaturan, atau tata tindak-tanduk dari bagian-bagian sistem.”

Hantu, Astrofisika, Manusia, dan Batas ‘Segala Sesuatu’

Saya tidak pernah, dan semoga saja tidak akan pernah, melihat hantu. Tapi semua yang mengaku pernah melihat, yakin kalau hantu itu ada. Tentu karena mereka pernah melihatnya. Dalam posisi ini saya yakin kalau hantu itu tidak ada, karena saya tidak pernah melihatnya. Sekaligus saya tidak yakin kalau hantu tidak ada, karena ada orang yang pernah melihatnya.

Anda tentu paham hantu yang saya maksud. Hantu yang sering muncul di TV dengan sosok yang menyeramkan. Sekalipun yang ditampilkan TV itu belum tentu benar, setidaknya tayangan tersebut memunculkan proyeksi akan tampilan hantu.

Berbincang hantu tentu menarik. Anda dapat membayangkan apapun yang anda suka dan menganggapnya sebagai hantu. Bukan karena ia tidak ada, ia ada di dalam pikiran anda, tapi ia tidak dapat kita jerat lalu hadirkan ke teman anda. Tapi itu bukanlah hal yang penting atawa menarik. Yang menarik adalah kita kadang membicarakannya, bukan?

*****

Perang Teks dan Hamlet yang Malang

-Gedung PKM Universitas Jember. Jam 19.30 WIB Sabtu 24 dan 15.30 WIB 25 Desember 2011-


“Seluruh perempuan seharusnya dijahit!” teriak seorang pria yang memakai jas krem kecoklatan, sambil ia mendorong cukup keras perempuan yang ia teriaki, “Sebuah negara tanpa ibu.”

Sebelumnya, delapan orang berpakaian serba hitam dalam barisan perlahan menuju ke tengah. Empat orang, dua di masing-masing sisi, memanggul peti mati. Dua orang di depannya, dengan wajah dilapisi make-up, nampaknya sedang berduka. Sedang yang berjas itu, mengambil posisi agak tinggi.

Ia episentrum getar malam itu: Pangeran Hamlet.

Pergerakan Diskursus Seni Rupa

: Gerakan Seni Rupa Baru dan Taring Padi




Waktu itu masih dekade1970-an dan awal 1980-an, dimana seni-modernisme perlahan mulai dibongkar aspek dogmatiknya. Arus dan gaya baru dalam berkesenian mulai bersuara. Peristiwa ini, lantas dikenal sebagai Gerakan Seni Rupa Baru (GSRB). Sebuah momentum dimana seni rupa Indonesia sekali lagi ramai oleh tingkah polah anak-anak muda.

Suatu hari di penghujung 1974, yang kemudian dikenal di dunia seni rupa sebagai ‘Desember hitam’ muncul nama-nama seperti Nanik Mirna, Harsono, Munni Adhi dalam pameran. Kemudian ditambahi saat Dewan Juri Pameran Besar Seni Lukis mensahkan karya-karya AD Pirous, Abas Alibasyah, Aming Prayitno, dll., untuk ikut berpameran.